علم اللغة الاجتماعي والاتصال اللغوي و مجالته

.
علم اللغة الاجتماعي والاتصال اللغوي و مجالته

.

مقدمة

.

علم اللغة الاجتماعي: هو العلم الذي يدرس اللغة في علاقاتها بالمجتمع، وينتظم كل جوانب بنية اللغة، وطرائق استعمالها التي ترتبط بوظائفها الاجتماعية والثقافية. ويُعد فرعًا من الفروع الملحقة بعلم اللغة الآن، وقد نشأ وتطور وأصبح علمًا بوصف كونه رد فعل مباشر للمدرسة البنيوية، سواء في أوربا أو أمريكا، وكذا المدرسة التوليدية التحويلية في بدايتها؛ حيث أهملتا البعد الاجتماعي للغة

فاللغة مرتبطة بالمجتمع ارتباطًا وثيقًا، وقد أدرك علماء الاجتماع هذا فاعتبروا اللغة ظاهرة اجتماعية، وحلقة في سلسلة النشاط الاجتماعي، كما أدرك علم اللغة الحديث هذا فأخذ على عاتقه دراسة الظواهر اللغوية في ضوء ارتباطها بالظواهر الاجتماعية، وقد أثمر التعاون بين الفريقين هذا الفرع، سواء من علوم اللغة أو علوم الاجتماع، وهو علم اللغة الاجتماعي أو علم الاجتماع اللغوي

Read More  علم اللغة الاجتماعي والاتصال اللغوي و مجالته

مهارة الكلام في اللغة العربية

.

مهارة الكلام في اللغة العربية

.

مقدمة

.

كانت اللغة العربية أكثر اهتماما في تعليمها إما في المدارس والمعاهد، لأنها من إحدى اللغات السامية ولها دور هام لكونها ذات أدب جيد وأسلوب حسن وكونها لغة القرآن والأحاديث النبوية، كما قال الله تعالى في القرآن الكريم: إنا أنزلناه قرآنا عربيا لعلكم تعقلون (يوسف: 2). وقال رسول الله صلى الله عليه الصلاة والسلام : عن ابن عباس رضي الله عنه قال النبي صلى الله عليه وسلم: ( أحبوا العرب لثلاث لأني عربي والقرآن عربي وكلام أهل الجنة عربي – رواه الطبراني).

اللغة هي أصوات وألفاظ مرتبة على نسق معينة تترجم الأفكار التي تجول في النفس إلى عبارات وجمل تواضع عليه أهلها. وهي نظام اعتباطي لرموز صوتية تستخدم لتبادل الأفكار والمشاعر بين أعضاء جماعة لغوية متجانسة. ويقال أنها ألفاظ يعبر بها كل قوم عن أغراضهم، ووسيلة لاتصال الفرد بغيره والتفاهم مع غيره، وعن طريق هذا الاتصال يدرك حاجته، كما أنها وسيلة في التعبير عن آماله وعواطفه

.

.

Read More مهارة الكلام فصل الثالث

Ilmu Faraidh

File berikut memudahkan kita dalam menghitung waris.
Silahkan download disini:

DOWNLOAD

PERINCIAN PEMBAGIAN HARTA WARIS

KERABAT LAKI-LAKI YANG BERHAK MENERIMA PUSAKA ADA 15 ORANG

1. Anak laki-laki
2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki
3. Bapak
4. Kakek / ayahnya ayah
5. Saudara laki-laki sekandung
6. Saudara laki-laki sebapak
7. Saudara laki-laki seibu
8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung
9. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak
10. Suami
11. Paman sekandung
12. Paman sebapak
13. Anak dari paman laki-laki sekandung
14. Anak dari paman laki-laki sebapak
15. Laki-laki yang memerdekakan budak

Selain yang disebut di atas termasuk “dzawil arham”, seperti paman dari pihak ibu, anak laki-laki saudara seibu dan paman seibu, dan anak laki-laki paman seibu dan semisalnya tidak mendapat harta waris. Lihat Muhtashar Fiqhul Islami, hal. 775-776

ADAPUN AHLI WARIS PEREMPUAN SECARA TERINCI ADA 11 ORANG

1. Anak perempuan
2. Cucu perempuan dari anak laki-laki
3. Ibu
4. Nenek / ibunya ibu
5. Nenek / ibunya bapak
6. Nenek / ibunya kakek
7. Saudari sekandung
8. Saudari sebapak
9. Saudari seibu
10. Isteri
11. Wanita yang memerdekakan budak

Semua keluarga wanita selain ahli waris sebelas ini, seperti bibi dan seterusnya dinamakan “dzawil arham”, tidak mendapat harta waris. Lihat Muhtashar Fiqhul Islam, hal. 776

Catatan.
[1]. Bila ahli waris laki-laki yang berjumlah lima belas di atas masih hidup semua, maka yang berhak mendapatkan harta waris hanya tiga saja, yaitu : Bapak, anak dan suami. Sedangkan yang lainnya mahjub (terhalang) oleh tiga ini.

[2]. Bila ahli waris perempuan yang berjumlah sebelas di atas masih hidup semua, maka yang berhak mendapatkan harta waris hanya lima saja, yaitu : Anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki, ibu, isteri, saudari sekandung

[3]. Jika semua ahli waris laki-laki dan perempuan masih hidup semuanya, maka yang berhak mendapatkan harta waris lima saja, yaitu : Bapak, anak, suami, atau isteri, anak perempuan, dan ibu.

PERINCIAN BAGIAN SETIAP AHLI WARIS DAN PERSYARATANNYA.

Bagian Anak Laki-Laki
[1]. Mendapat ashabah (semua harta waris), bila dia sendirian, tidak ada ahli waris yang lain.
[2]. Mendapat ashabah dan dibagi sama, bila jumlah mereka dua dan seterusnya, dan tidak ada ahli waris lain.
[3]. Mendapat ashabah atau sisa, bila ada ahli waris lainnya.
[4]. Jika anak-anak si mayit terdiri dari laki-laki dan perempuan maka anak laki mendapat dua bagian, dan anak perempuan satu bagian. Misalnya, si mati meninggalkan 5 anak perempuan dan 2 anak laki-laki, maka harta waris dibagi 9. Setiap anak perempuan mendapat 1 bagian, dan anak laki-laki mendapat 2 bagian.

Bagian Ayah
[1]. Mendapat 1/6, bila si mayit memiliki anak laki atau cucu laki. Misalnya si mati meninggalkan anak laki dan bapak, maka harta dibagi menjadi 6, Ayah mendapat 1/6 dari 6 yaitu 1, sisanya untuk anak.
[2]. Mendapat ashabah, bila tidak ada anak laki atau cucu laki. Misalnya si mati meninggalkan ayah dan suami, maka suami mendapat ½ dari peninggalan isterinya, bapak ashabah (sisa).
[3]. Mendapat 1/6 plus ashabah, bila hanya ada anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki. Misalnya si mati meninggalkan ayah dan satu anak perempuan. Maka satu anak perempuan mendapat ½, ayah mendapat 1/6 plus ashabah.

Mengenai seorang anak wanita mendapat ½, lihat keterangan berikutnya. Semua saudara sekandung atau sebapak atau seibu gugur, karena ada ayah dan datuk.

Bagian Kakek
[1]. Mendapat 1/6, bila ada anak laki-laki atau cucu laki-laki, dan tidak ada bapak. Misalnya si mati meninggalkan anak laki-laki dan kakek. Maka kakek mendapat 1/6, sisanya untuk anak laki-laki.
[2]. Mendapat ashabah, bila tidak ada ahli waris selain dia
[3]. Mendapat ashabah setelah diambil ahli waris lain, bila tidak ada anak laki, cucu laki dan bapak, dan tidak ada ahli waris wanita. Misalnya si mati meninggalkan datuk dan suami. Maka suami mendapatkan ½, lebihnya untuk datuk. Harta dibagi menjadi 2, suami =1, datuk = 1
[4]. Kakek mendapat 1/6 dan ashabah, bila ada anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki. Misalnya si mati meninggalkan kakek dan seorang anak perempuan. Maka anak perempuan mendapat ½, kakek mendapat 1/6 ditambah ashabah (sisa).

Dari keterangan di atas, bagian kakek sama seperti bagian ayah, kecuali bila selain kakek ada isteri atau suami dan ibu, maka ibu mendapat 1/3 dari harta waris, bukan sepertiga dari sisa setelah suami atau isteri mengambil bagianya.

Adapun masalah pembagian kakek, bila ada saudara dan lainnya, banyak pembahasannya. Silahkan membaca kitab Mualimul Faraidh, hal. 44-49 dan Tashil Fara’idh, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 28 dan kitab lainnya.

Bagian Suami
[1]. Mendapat ½, bila isteri tidak meninggalkan anak atau cucu dari anak laki.
[2]. Mendapat ¼, bila isteri meninggalkan anak atau cucu. Misalnya, isteri mati meninggalkan 1 laki-laki, 1 perempuan dan suami. Maka suami mendapat ¼ dari harta, sisanya untuk 2 orang anak, yaitu bagian laki-laki 2 kali bagian anak perempuan

Bagian Anak Perempuan
[1]. Mendapat ½, bila dia seorang diri dan tidak ada anak laki-laki
[2]. Mendapat 2/3, bila jumlahnya dua atau lebih dan tidak ada anak laki-laki
[3]. Mendapat sisa, bila bersama anak laki-laki. Putri 1 bagian dan, putra 2 bagian.

Bagian Cucu Perempuan Dari Anak Laki-Laki
[1]. Mendapat ½, bila dia sendirian, tidak ada saudaranya, tidak ada anak laki-laki atau anak perempuan.
[2]. Mendapat 2/3, jika jumlahnya dua atau lebih, bila tidak ada cucu laki-laki, tidak ada anak laki-laki atau anak perempaun.
[3]. Mendapat 1/6, bila ada satu anak perempuan, tidak ada anak laki-laki atau cucu laki-laki
[4]. Mendapat ashabah bersama cucu laki-laki, jika tidak ada anak laki. Cucu laki-laki mendapat 2, wanita 1 bagian. Misalnya si mati meninggalkan 3 cucu laki-laki dan 4 cucu perempuan. Maka harta dibagi menjadi 10 bagian. Cucu laki-laki masing-masing mendapat 2 bagian, dan setiap cucu perempuan mendapat 1 bagian.

Bagian Isteri
[1]. Mendapat ¼, bila tidak ada anak atau cucu
[2]. Mendapat 1/8, bila ada anak atau cucu
[3]. Bagian ¼ atau 1/8 dibagi rata, bila isteri lebih dari satu

Bagian Ibu
[1]. Mendapat 1/6, bila ada anak dan cucu
[2]. Mendapat 1/6, bila ada saudara atau saudari
[3]. Mendapat 1/3, bila hanya dia dan bapak
[4]. Mendapat 1/3 dari sisa setelah suami mengambil bagiannya, jika bersama ibu dan ahli waris lain yaitu bapak dan suami. Maka suami mendapat ½, ibu mendapat 1/3 dari sisa, bapak mendapatkan ashabah (sisa)
[5]. Mendapat 1/3 setelah diambil bagian isteri, jika bersama ibu ada ahli waris lain yaitu bapak dan isteri. Maka isteri mendapat ¼, ibu mendapat 1/3 dari sisa, bapak mendapatkan ashabah (sisa).

Sengaja no. 4 dan 5 dibedakan, yaitu 1/3 dari sisa setelah dibagikan kepada suami atau isteri, bukan 1/3 dari harta semua, agar wanita tidak mendapatkan lebih tinggi daripada laki-laki. Lihat Muhtashar Fiqhul Islami, hal. 778-779 dan Al-Mualimul Fara’idh, hal. 35

Bagian Nenek
Nenek yang mendapat warisan ialah ibunya ibu, ibunya bapak, ibunya kakek.
[1]. Tidak mendapat warisan, bila si mati meninggalkan ibu, sebagaimana kakek tidak mendapatkan warisan bila ada ayah.
[2] Mendapat 1/6, seorang diri atau lebih, bila tidak ada ibu. Lihat Muhtashar Fiqhul Islami, hal. 780

Bagian Saudari Sekandung
[1]. Mendapat ½, jika sendirian,tidak ada saudara sekandung, bapak, kakek, anak.
[2]. Mendapat 2/3, jika jumlahnya dua atau lebih, tidak ada saudara sekandung, anak, bapak, kakek.
[3]. Mendapat bagian ashabah, bila bersama saudaranya, bila tidak ada anak laki-laki, bapak. Yang laki mendapat dua bagian, perempuan satu bagian.

Bagian Saudari Sebapak
[1]. Mendapat ½, jika sendirian, tidak ada bapak, kakek, anak dan tidak ada saudara sebapak,saudara ataupun saudara sekandung
[2]. Mendapat 2/3, jika dua ke atas, tidak ada bapak, kakek, anak dan tidak ada saudara sebapak, saudara ataupun saudara sekandung.
[3]. Mendapat 1/6 baik sendirian atau banyak, bila ada satu saudari sekandung, tidak ada anak, cucu, bapak, kakek, tidak ada saudara sekandung dan sebapak.
[4]. Mendapat ashabah, bila ada saudara sebapak. Saudara sebapak mendapat dua bagian, dan dia satu bagian.

Bagian Saudara Seibu
Saudara seibu atau saudari seibu sama bagiannya
[1]. Mendapat 1/6, jika sendirian, bila tidak ada anak cucu, bapak, kakek.
[2]. Mendapat 1/3, jika dua ke atas, baik laki-laki atau perempuan sama saja, bila tidak ada anak, cucu, bapak, kakek.

[Ditulis berdasarkan kitab Mualimul Fara’idh, Tashil Fara’idh (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin), Mukhtashar Fiqhul Islam, dan kitab-kitab lainnya]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Khusus/Tahun IX/1426H/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]

File berikut memudahkan kita dalam menghitung waris.
Silahkan download disini:

DOWNLOAD

Keistimewaan Bahasa Arab.

5 Agustus 2009 1 komentar

al-quranBarangkali ada sebagian dari kita, termasuk kaum muslimin, masih muncul pertanyaan dalam dirinya: ”Mengapa Al-Quran, wahyu Alloh yang diturunkan melalui Rasululloh Muhammad, menggunakan bahasa Arab sebagai mediatornya?

Mengapa bukan Bahasa Inggris, yang notabene saat ini merupakan bahasa terbesar di dunia? Atau Bahasa Indonesia, atau Bahasa Jawa?”

Pada prinsipnya pastilah Alloh yang Maha Sempurna mempunyai alasan yang bagus mengenai masalah ini, yang di luar kemampuan dan pengetahuan kita. Mengapa Al-Qur’an berbahasa Arab? Alasannya pastilah terkait dengan karakteristik Al-Qur’an itu sendiri, sehingga bahasa lain dianggap tidak layak digunakan oleh Al-Qur’an. Maka untuk menjawabnya, kita perlu tahu karakteristik Al-Qur’an itu sendiri.

1.      Al-Qur’an berlaku sepanjang masa

Berbeda dengan kitab suci agama lain yang hanya berlaku untuk masa yang terbatas , Al-Qur’an sebagai kitab suci diberlakukan untuk masa waktu yang tak terhingga, bahkan sampai datangnya kiamat. Maka bahasa yang digunakan Al-Qur’an haruslah bahasa yang tetap digunakan oleh umat manusia sepanjang zaman.

Kenyataannya, sejarah manusia belum pernah mengenal sebuah bahasa pun yang tetap eksis sepanjang sejarah . Setiap bahasa punya usia, selebihnya hanya tinggal peninggalan sejarah. Bahkan bahasa Inggris sekalipun masih mengalami kesenjangan sejarah. Maksudnya, bahasa Inggris yang digunakan pada hari ini jauh berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang Inggris di abad pertengahan. Kalau Ratu Elizabeth II masuk ke lorong waktu dan bertemu dengan King Arthur, yang hidup di abad pertengahan, pastilah mereka tidak bisa berkomunikasi, meski sama-sama penguasa Inggris di zamannya. Mengapa?

Karena meski namanya masih bahasa Inggris, tapi kenyataannya bahasa keduanya jauh berbeda. Karena setiap bahasa mengalami perkembangan, baik istilah maupun grammar-nya. Setelah beratus tahun kemudian, bahasa itu sudah jauh mengalami deviasi yang serius.

Yang demikian itu tidak pernah terjadi pada bahasa Arab. Bahasa yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai orang arab yang hidup di abad ke-7 masih utuh dan sama dengan bahasa yang dipakai oleh Raja Abdullah, penguasa Saudi Arabia di abad 21 ini. Kalau seandainya keduanya bertemu dengan mesin waktu, mereka bisa berbincang-berbincang hingga subuh dengan menggunakan bahasa arab.

Dengan kenyataan seperti ini, wajarlah bila Allah SWT. memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an yang abadi. Kalau tidak, boleh jadi Al-Qur’an sudah musnah seiring dengan musnahnya bahasanya.

2.      Al-Qur’an Mengandung Informasi yang Padat

Diantara keistimewaan bahasa arab adalah kemampuannya menampung informasi yang padat di dalam huruf-huruf yang singkat. Sebuah ungkapan yang hanya terdiri dari dua atau tiga kata dalam bahasa arab, mampu memberikan penjelasan yang sangat luas dan mendalam. Sebuah kemampuan yang tidak pernah ada di dalam bahasa lain.

Makanya, belum pernah ada terjemahan Al-Qur’an yang bisa dibuat dengan lebih singkat dari bahasa arab aslinya. Semua bahasa umat manusia akan bertele-tele dan berpanjang-panjang ketika menguraikan isi kandungan tiap ayat. Sebagai contoh, lafadz ‘ain dalam bahasa arab artinya ‘mata’, ternyata punya makna lain yang sangat banyak. Kalau kita buka kamus dan kita telusuri kata ini, selain bermakna mata juga punya sekian banyak makna lainnya. Di dalam kamus kita mendapati makna lainnya, seperti manusia, jiwa, hati, mata uang logam, pemimpin, kepala, orang terkemuka, macan, matahari, penduduk suatu negeri, penghuni rumah, sesuatu yang bagus atau indah, keluhuran, kemuliaan, ilmu, spion, kelompok, hadir, tersedia, inti masalah, komandan pasukan, harta, riba, sudut, arah, segi, telaga, pandangan, dan lainnya.

Bahasa lain tidak punya makna yang sedemikian padat yang hanya terhimpun dalam satu kata dan hurufnya hanya ada tiga. Dan wajar pula bila Alloh SWT berkenan menjadi bahasa arab sebagai bahasa untuk firman-Nya yang abadi.

3.      Al-Qur’an Mudah Dibaca dan Dihafal

Sesuai dengan fungsi Al-Qur’an yang salah satunya sebagai pedoman hidup pada semua bidang kehidupan, Al-Qur’an harus berisi beragam materi dan informasi sesuai dengan beragam disiplin ilmu. Dan kita tahu bahasa dan istilah yang digunakan di setiap disiplin ilmu pasti berbeda-beda. Dan sangat boleh jadi seorang yang ahli di dalam sebuah disiplin ilmu akan menjadi sangat awam bila mendengar istilah-istilah yang ada di dalam disiplin ilmu lainnya.

Dan kalau beragam petunjuk yang mencakup beragama disiplin ilmu itu harus disatukan dalam sebuah kitab yang simpel, harus ada sebuah bahasa yang mudah, sederhana tapi tetap mengandung banyak informasi penting di dalamnya. Bahasa itu adalah bahasa Arab. Karena bahasa Arab mampu mengungkapkan beragam informasi dari beragam disiplin ilmu, namun tetap cair dan mudah dimengerti. Dan saking mudahnya, bahkan bisa dihafalkan di luar kepala.

Salah satu karakteristik bahasa Arab adalah mudah untuk dihafalkan, bahkan penduduk gurun pasir yang tidak bisa baca tulis pun mampu menghafal jutaan bait syair. Dan karena mereka terbiasa menghafal apa saja di luar kepala, sampai-sampai mereka tidak terlalu butuh lagi dengan alat tulis atau dokumentasi. Kisah cerita yang tebalnya berjilid-jilid buku, bisa digubah oleh orang arab menjadi jutaan bait puisi dalam bahasa arab dan dihafal luar kepala dengan mudah. Barangkali fenomena ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tulis menulis kurang berkembang di kalangan bangsa arab saat itu. Buat apa menulis, kalau semua informasi bisa direkam di dalam otaknya?

Maka sangat wajar kalau Alloh SWT menjadikan bahasa arab sebagai bahasa Al-Qur’an.

4.      Al-Qur’an Indah dan Tidak Membosankan

Salah satu keunikan bahasa arab adalah keindahan sastranya tanpa kehilangan kekuatan materi kandungannya. Sedangkan bahasa lain hanya mampu salah satunya. Kalau bahasanya indah, kandungan isinya menjadi tidak terarah. Sebaliknya, kalau isinya informatif maka penyajiannya menjadi tidak asyik diucapkan.

Ada sebuah pintu perlintasan kereta api yang modern di Jakarta. Setiap kali ada kereta mau lewat, secara otomatis terdengar rekaman suara yang membacakan peraturan yang terkait dengan aturan perlintasan kereta. Awalnya, masyarakat senang mendengarkannya, tapi ketika setiap kali kereta mau lewat, suara itu terdengar lagi, maka orang-orang menjadi jenuh dan bosan. Bahkan mereka malah merasa terganggu dengan rekaman suara itu. Ada-ada saja komentar orang kalau mendengar rekaman itu berbunyi secara otomatis.

Tapi lihatlah surat Al-Fatihah, dibaca orang ribuan kali baik di dalam shalat atau di luar shalat, belum pernah ada orang yang merasa bosan atau terusik ketika diperdengarkan. Bahkan bacaan Al-Qur’an itu begitu sejuk di hati, indah dan menghanyutkan. Itu baru pendengar yang buta bahasa arab. Sedangkan pendengar yang mengerti bahasa arab, pasti ketagihan kalau mendengarnya.

Tidak ada satu pun bahasa di dunia ini yang bisa tetap terdengar indah ketika dibacakan, namun tetap mengandung informasi kandungan yang kaya, kecuali bahasa arab. Maka wajarlah bila Alloh SWT berfirman dengan bahasa arab.

Apa yang kami sampaikan ini baru sebagai kecil dari sekian banyak hikmah diturunkannya Al-Qur’an dengan bahasa arab. Kita tidak tahu apa jadinya bila Al-Qur’an ini tidak berbahasa arab. Mungkin bisa jadi Al-Qur’an hanya ada di musium saja.

Dan jikalau Kami jadikan al-Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?… . [QS. Fushshilat: 44]

Wallohu a’lam bish-showab

Khutbah Jum’at Bahasa Jawa

15 Maret 2009 29 komentar

ASSALA~1

khutbah-jumat          Amma ba’du. Poro maos ingkang minulyo. Kanthi pitulunganipun Allah SWT, alhamdulillah khutbah jum’at satunggal tahun puniko sampun paripurno. Mugi-mugi saget manfaati kangge awak kulo piyambak khususipun lan umumipun dumateng poro kaum muslimin ingkang sami maos seratan meniko.

RUKUN-RUKUN KHOTBAH JUM’AT

  1. Muji dumateng Allah SWT wonten khutbah awal lan khutbah al_Tsaniyah.
  2. Mahos sholawat wonten ing khutbah awal lan khutbah al_Tsaniyah.
  3. Paring wasiat taqwa dumateng Allah SWT wonten ing khutbah awal lan khutbah al_Tsaniyah.
  4. Mahos ayat-ayat suci al_Qur’an wonten salah satunggilipun khutbah kalih
  5. Mahos do’a kagem tiyang muslimin lan muslimat wonten ing khutbah al_Tsaniyah.

SYARAT-SYARATIPUN KHUTBAH

Syarat –syaratipun wonten sekawan welas, antawisipun;

  1. Khotib utawi tiyang ingkang khutbah kedah tiyang ingkang jaler.
  2. Khotib kedah tiyang ingkang saged mirengaken lan mboten budek.
  3. Khotib kedah wonten sak lebetipun bangunan utawi masjid ingkang dipun ginaaken kangge sholat jum’at.
  4. Khotib kedah suci saking hadas shoghir lan kabir.
  5. Khotib kedah nutup aurat.
  6. Khotib kedah jumeneng naliko nyampeaken khutbah.
  7. Khotib kedah lenggah kanthi tumu’ninah wonten ing antawisipin khutbah kalih.
  8. Kedah nuli-nuli wonten ing antawisipun khotbah kalih.
  9. Kedah nuli-nuli antawis khotbah lan sholat jum’at.
  10. Khotbah kedah dipun sampeaken ngangge Bahasa Arab utawi bahasa ingkang dipun pahami poro hadlirin
  11. Khotib kedah sero suwantenipun hinggo saged dipun mirengaken poro hadirin
  12. Khotbah kedah wonten wekdal dhuhur
  13. Khotbah kedah dipun sampeaken sak derengipun nindaaken sholat jum’at.
  14. Khotib kedah tiyang ingkang saged ambedaaken antawisipun rukun khutbah lan syaratipun khutbah.

          Wonten ngandap meniko judul-judul khutbah kanti bahasa Jawi ingkang saget dipun download;

1. Anggayuh Kabegjan

2. Kautamaan Wulan Romadlon

3. Birrul Walidain

4. Kautamaan Istighfar lan Taubat

5. Tulung Tinulung Ing Dalem Kebagusan

6. Akibat Tumindak Olo

7. Ati Kang Tentrem

8. Bahaya Syirik lan Keutamaan Tauhid

9. Rezeki Ingkang Berkah

10. Bondho Meniko Amanat Saking Allah

11. Hikmah ipun Maulid Nabi Muhammad SAW.

12. Iman Marang Nabi Muhammad SAW.

13. Islam Agami Ingkang Haq

14. Islam Nikmat Ingkang Sampurno

15. Jagi Keimanan

16. Kautamaan Dinten Tasyri’

17. Kautamaan Maos Al-Qur’an

18. Kautamaan Zakat

19. Kawulonipun Allah lan Ummat Nabi Muhammad SAW.

20. Ngagungaken Wulan Muharrom

21. Pejah Puniko Haq

22. Pentingipun tauhid

23. Sak Temene Wong Mukmin

24. Shalat Kewajiban Tiyang Muslim

25. Syirik Nyebabaken Bahaya

26. Syukur Nikmat

27. Taqwa marang Allah SWT

28. Khutbah Idhul Fitri

29. Khutbah Idhul Adha

30. Khutbah Tsani Saben-saben jum’at

..

          Poro maos, paramilo taksih wonten kekirangan soho kalepatan kulo suwun memaklumi tuwin kersoho ngleresaken. Jazakumullah ahsanal jaza’.

..

          (hoeda twin)

Peradaban Islam Masa Khulafa al-Rasyidun

10 Januari 2009 2 komentar

1.      Pembukuan Al-Qur’an

Penulisan ayat-ayat al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad, bahkan sejak awal diturunkannya al-Qur’an yang diwahyukan secara berangsur-angsur selama sekitar 23 tahun.

Setelah Rasulullah wafat dan Abu Bakar menjadi Khalifah, terjadi Perang Yamamah yang merenggut korban kurang lebih 70 sahabat penghafal al-Qur’an. Banyaknya sahabat yang gugur dalam peristiwa tersebut timbul kekhawatiran dikalangan sahabat khususnya Umar ibn al-Khattab akan menyebabkan hilangnya al-Qur’an. Uamar menyarankan kepada Abu Bakar dan beliau menyetujuinya. Kemudian ditunjuklah Zaid ibn Tsabit dengan berpegang pada tulisan yang tersimpan di rumah Rasulullah, hafalan dari sahabat dan naskah yang ditulis oleh para sahabat untuk dirinya sendiri.

2.      Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Di beberapa wilayah perkotaan jumlah penduduknya lebih banyak dan alat-alat lebih lengkap, yang timbul dari banyaknya sumber pencaharian yang disebabkan oleh suburnya tanah atau cepatnya pertukaran barang dengan orang lain. Banyaknya penduduk diikuti dengan kemakmuran yang memungkinkan bagi mereka meluangkan waktu untuk kegiatan mencari nafkah, diikuti pula dengan meningkatnya pemikiran penduduk. Dengan demikian muncullah pendapat-pendapat, ilmu dan akan berkembang pada kesusastraan.

Lahirnya ilmu Qira’at erat kaitanya dengan membaca dan mempelajari al-Qur’an. Terdapatnya beberapa dialek bahasa dalam membaca al-Qur’an, dikawatirkan akan terjadi kesalahan dalam membaca dan memahaminya. Oleh karenanya diperlukan standarisasi bacaan dengan kaidah-kaidah tersendiri. Apalagi bahasa Arab yang tidak bersyakal tertentu menimbulkan kesulitan dalam membacanya. Untuk mempelajarinya khalifah Umar telah mengutus Muadz ibn Jabbal ke Palestina, Ibadah ibn as-Shamit ke Hims, Abu Darda’ ke Damaskus, Ubay ibn Ka’ab dan Abu Ayyub tetap di Madinah.

Menafsirkan al-Qur’an adalah keperluan dasar untuk memahami ayat-ayyat, sebagaimana telah dijelaskan sendiri oleh Rasulullah baik dengan ayat-ayat al-Qur’an maupun dengan al-Hadits. Ini tahap awal dari munculnya Ilmu Tafsi. Beberapa sahabat telah mempelajari dan menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan apa yang mereka terima dari Rasul, diantaranya: Ali ibn Abi Tholib, Abdullah ibn Abbas, Abdullah ibn Mas’ud dan Abdullah ibn Ka’ab.

Ilmu Hadits belum dikenal pada masa Khulafa al-Rasyidun tetapi pengetahuan tentang hadis tersebar luas dikalangan umat Islam. Usaha mempelajari dan menyebarkan hadit, seiring dengan kegiatan mempelajari dan menyebarkan al-Qur’an. Untuk memahami al-Qur’an tidak dapat dilepaskan dari pengetahuan tentang hadis.beberapa sahabat yang menyebarluaskan hadis atas perintah Umar adalah Abdullah ibn mAs’ud ke Kota Kuffah, Ma’kal ibn Yassar ke Basrah, Ibadah ibn Shamit dan Abu Darda’ ke Syiria.

Ilmu Nahwu lahir dan berkembang di Basrah dan kuffah, karena di dua kota tersebut banyak bermukim kabilah Arab yang berbicara dengan bermacam dialek bahasa. Disana juga bermukim orang-orang yang berbahasa Persia. Ali ibn Abi Thalib adalah pembina dan penyusun pertama dasar ilmu nahwu. Abu Aswad ad-Duali (masa Bani Umayyah) belajar kepadanya.

Khath al-Qur’an berkaitan erat dengan penulisan dan penyebaran al-Qur’an. Dalam Islam seni menulis al-Qur’an sangat dihargai, dan tidak satu aksara pun di dunia ini menjadi seni artistik yang hebat seperti aksara arab. Orang Arab belajar tulisan Nabti / Naskhi dari perdagangan keluar Syam, tulisan Kufi dari Irak.

Pertumbuhan Ilmu Fiqh tidak dapat dilepaskan dari al-Qur’an dan Hadis sebagai sumbernya, karena itu tidak mengherankan jika ahli-ahli fiqih pada umumnya terdiri dari mereka yang ahli pula yang ahli al-Quran dan sunnah atau al-Hadits. Beberapa sahabat yang mempunyai keahlian dalam bidang fiqih: Umar ibn Khatthab, Ali ibn Abi Thalib, Zaid ibn Tsabit (tinggal di Makkah), Abdullah ibn Abas (Makkah), Abdullah ibn Mas’ud (Kuffah), Anas ibn Malik (Basrah) dll.

Al-Harits ibn Kaladah yang berasal dari Thaif (w. 13 H), tercatat sebagai seorang dokter pada masa permulaan awal Islam.

3.      Perkembangan Sastra

Sastra adalah inti seni, bagaikan tercermin dari segala yang hidup dikalangan bangsa Arab, baik yang bersifat spiritual, politik, maupun selain keduanya. Islam terkait dan tak dapat dipidahkan dari bahasa Arab melalui al-Qur’an. Kesusteraan Arab dimulai dengan lembaran yang tak mungkin dicipta oleh manusia. Tebukti bahasa Arab merupakan bahasa yang sempurna dalam menangani topik yang sangat halus dari bentuk bahasa yang ditampilkan.

Pengamat sastra pada umumnya menyatakan ada dua pendapat tentang perkembangan sastra masa Khulafa al-Rasyidun :

1.      sastra mengalami stagnasi karena perhatian yang lebih kepada bahasa al-Qur’an, sehingga sair dan sastra kurang berkembang.

2.      al-Qur’an sebagai sumber inspirasi untuk kegiatan sastra, karena dalam berdakwah diperlukan bahasa yang indah. Pengaruh Qur’an dan Hadis tidak bisa dilepaskan karena keduanya menjadi sumber pokok ajaran Islam.

Secara khusus dijelaskan bahwa puisi pada masa tersebut tidak jauh dari puisi pada masa Rasul, yang juga tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya (Jahiliyah). Maksudnya bahwa puisi kurang majudan berkembang kerena lebih memperhatikan al-Qur’an, sehingga aroma struktural kata dalam puisi sangat terpengaruh oleh al-Qur’an. Prosa  tertuang dalam 2 bentuk yaitu Khithabah ( bahasa pidato) dan kitabah (bahasa korespondensi). Khithabah menjadi alat yang paling efektif untuk berdakwah mengalami kesempurnaannya karena pengaruh al-Qur’an. Ruhnya khitabah adalah Rasul dan para khalifah, kereka adalah pemimpin yang sekaligus sastrawan, mereka sangat  baligh dan fasih dalam berkhotbah. Ahli pidato yang sangat terkenal adalah Ali ibn Abi Thalib, khutbahnya dikumpulkan dalam kitab ”Nahj al-Balaghah Tentang  Kitabah tidak mengalami kemajuan sepesat  khithabah meskipun di dalamnya banyak didapatkan nilai-nilai sastra.

Para penyair dua masa yaitu pra Islam dan masa Islam disebut ”Mukhadhram”, seperti Hasan ibn Tsabit dan Kaab ibn Zuhair. Hasan ibn Tsabir adalah penyair rumah tangga Rasul, ia selalu mengubah syair-syairuntuk membela Islam dan memuliakan Rasulnya.

4.      Perkembangan Arsitektur

Arsiteksturdalam Islam dimulaitumbuhnyadari masjid. Masjid Quba didirikan oleh Rasulullah dalam perjalananhijrah sebelum sampai di Madinah. Sesampainya beliau di kota Madinah, didirikannya pula sebuah masjid yang belum mempunyai  nilai seni. Sungguhpun demikian masjid tersebut telah memberikan tempat bertolak bagi kesenian Islam. Beberapa masjid yang dibangun dan diperbaiki pada masa Khulafa’ al-Rasyidun yaitu:

1.      Masjid al-Haram adalah satu dari tiga masjid yang paling mulia dalam Islam. Masjid ini dibangun disekitar Ka’bah yang dibangun oleh niabi Ibrahim. Khalifah Umar mulai memperluas masjid yang pada masa masa Rasulullah masih amat sangat sederhana, dengan memberi rumah-rumah disekitarnya. Masjid dikelilingi dengna tembok batubata setinggi 1.5 meter. Pada khalifah Usman (26 H) masjid al-Haram diperluas.

2.      Masjid Madinah (Nabawi) didirikan oleh Rasulullah pada saat pertama kali tiba di Madinah dari perjalanan Hijrahnya. Masjid tersebut didirikan di tempat unta tersebut berhenti. Dengan bertambahnya umat Islam khalifah Umar mulai memperluas masjid ini(17 H).

3.      Masjid al-Atiq, masjid ini yang pertama kali didirikan di Mesir (21 H) terletak di utara benteng Babilon. Masjid ini tidak bermihrab mempunyai tiga pintu dilengkapi dengan tempat berteduh bagi musafir.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan islam, Jilid I, terj. Mukhtar Yahya (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1983).

Ahmad Amin, Isllam dari Masa ke Masa cet. I (Bnadung: CV. Rusyida,1987)

C. Israr, Sejarah Kesenian Islam, jilid I, cet. II (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), dan Ibnu al-Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh, jilid III.

Dirjen Binbaga Islam Departemen Agama RI, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, jilid I (Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama IAIN Alauddin, 1981/1982)

Hassan Ibrahim Hassan, Tarikh al-Islam as-Siyasi wa ad-Diny wa ats-Tsaqafi wa al-Ijtima’iy, cet III, (Kairo: Maktabah an-Nahdlah al-Mishriyah, 1964).

Harun Nasution, Islam ditinjau Dari Berbagai aspeknya, jilid I (Jakarta: UI Press, 1985)

Hasyimi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979)

G.E. Bosworth, Dinasti-Dinasti Islam, Terjl Ilyas Hasan (Bandung: Mizan, 1980).

Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, bagian I dan II, terj. Ghufran A. Mas’adi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000)

Marshall G. S. Hodgson, The ventureof Islam, vol.1 (chicago &London:The University of Chicago Press, 1974);Hamka, sejarah Umat Islami, cet. II (singapura: Pustaka Nasional Pte. Ltd,1997)

Nourouzzaman Shiddiqi, Tamaddun Muslim (Jakarta: Bulan Bintang, 1986)

P. K. Hitti, Dunia Arab Secara Ringkas, Terj. Ushuluddin Hutagalung (Bandung: Vorkink-Van Hoeve’s Gravenhage),

Pederson Johannesi, Fajar Intelektualisme Islam, terj. Alwiyah Abdurrahman (Bandung: Mizan, 1984).

Syed Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, terj. Dadang Afandi (Bandung: CV. Rosida, 1988).

Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan, dan Shiddiqi, Tamaddun Muslim; juga Ibn al-Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh, jilid III,

Syibli Nu’man, Umar yang Agung ( Bandung: Penerbit Pustaka, 1981)

Bahasa Arab di Tengah Globalisasi

7 Januari 2009 1 komentar

Tak diragukan lagi pentingnya bahasa Arab bagi umat Islam, terutama. Ia bahasa al-Qur’an dan Hadis, dua pilar pokok dalam Islam. Hal yang wajar dan tak bisa disederhanakan, apalagi dituduh arabisme ketika Imam Syafi’i dalam ar-Risalahnya, disusul kemudian pengarang kitab yang lagi digandungi sarjana Islam – Imam Syathibi dalam Muwafaktnya – mensyaratkan bagi siapa-siapa yang mau berijtihad untuk terlebih dahulu menguasai ilmu bahasa Arab. Bahasa Arab juga adalah bahasa Ilmu, terutama keilmuan Islam klasik. Beratus-ratu ribu buku dari berbagai disiplin ilmu warisan nenek moyang kita memakai bahas Arab. Keistimewaan lain bahasa Arab, dibanding bahasa-bahasa dunia lainnya, adanya ikatan kuat dengan agama. Karena kitab suci agama Islam diturunkan dengan bahasa Arab. Sementara bahasa asli Taurat dan Injil kini sudah punah. Pada masanya dulu, tepatnya sebelum Barat memasuki masa renaissance, berabad-abad lamanya bahasa Arab jadi bahasa dunia. Ia merupakan bahasa politik, ekonomi, bahkan dunia keilmuan. Ada beberapa sebab yang membuatnya jadi bahasa peradaban dunia, dimana setiap orang yang berkeinginan maju, merasa berkewajiban menguasainya. Diantaranya yang paling penting adalah:

Adanya proyek Arabisasi buku-buku administrasi pemerintahan pada masa dinasti Mu’awiyah (Khalifah Abd. Malik 685-705 M dan anaknya al-Walid *705-710 M) yang mau tidak mau memaksa para pegawai pemerintahan yang tak bisa berbahasa Arab untuk belajar bahasa Arab.

Proyek terjemahan, terutama buku-buku keilmuan, secara besar-besaran pada masa dinasti Abasiah (200 H/ 900 M), dari bahasa Yunani, India, Suryani ke dalam bahasa Arab, yang mengakibatkan orang Islam menjadi bangsa yang luar biasa kreatif dan kemudian menjadikan Islam sebagai kiblat keilmuan dan peradaban dunia

 

Kondisi Bahasa Arab Sekarang

Keadaan diatas itu terjadi dulu. Kalau kita amati sekarang, kondisinya akan tampak berbalik. Apalagi sejak memasuki era globalisasi, keadaannya makin mengkhawatirkan. Bahasa Arab perlahan tapi pasti posisinya mulai tergusur, dan bahasa Inggris menahbiskan diri sebagai bahasa nomor satu dunia. Pemasalahannya tidak berhenti sampai di situ. Akibat globalisasi zaman, dan budaya konsumtif yang tinggi dikalangan negara Arab, ditambah ledakan informasi, secara sadar atau tidak sadar, mau atau tak mau, bahasa Inggris meringsek masuk ke dalam sistem-sistem sosial di kalangan Arab sendiri. Misalnya, dalam bidang pendidikan, banyak sekolah-sekolah di sana, terutama dalam mata pelajaran eksakta: Kimia, Fisika, Matematika dan biologi, bukunya menggunakan bahasa Inggris.

Begitu juga dalam dunia teknologi, kosa kata asing tak kuasa untuk dibendung. Celakanya kemudian bahasa itu diterima apa adanya, karena secara level sosial akan dinggap sebagai orang modern. Perubahan kalimat asing hanya dari sisi tulisan –dari latin ke arab-, bunyi tetap sama: laptop, mouse, keybord, mobile, oke, dll. Kondisinya tidak seperti abad dua Hijriah dulu. Walaupun kosa-kata asing banyak bermunculan, tapi tidak langsung dimakan mentah-mentah. Ada proses yang sangat ketat, dimana kosa kata asing sedapat mungkin dicarikan kosa kata yang semakna, kalau tidak ada dilakukan penerjemahan, kemudian kalau masih tak bisa baru diterima apa adanya.

Dalam kehidupan sosial juga penggunaan bahasa yang keinggris-inggrisan sedang digandrungi masyarakat Arab. Kondisi yang sungguh memprihatinkan. Kita selalu berharap pada lembaga-lembaga kajian bahasa Arab untuk segera melakukan tindakan-tindakan preventif, misalnya melakukan penerjemahan kata-kata asing dan melakukan gerakan cinta bahasa Arab, dst.

Kita tak memungkiri apalagi anti bahasa Inggris, atau bahasa asing lainnya. Semuanya penting untuk kita pelajari dan kita kuasai! Tapi sikap toleran itu tidak kemudian menggerus dan meninggalkan bahasa Ibu, sebagai identitas bangsa yang punya harga diri. Karena fenomena yang terjadi, penggunaan bahasa asing itu, ada indikasi, lebih sebagai sebentuk keminderan atas bahasa sendiri. Mereka merasa sebagai orang ‘maju’ ketika menggunakan bahasa asing.

Himbauan kepada lembaga-lembaga kajian bahasa Arab saja tidak cukup tentunya. ‘Serangan’ itu akan terus bertubi-tubi, bahkan makin dahsyat selama mereka tak mau mencontoh nenek moyangnya dulu, yaitu menjadi bangsa yang sangat kreatif. Menjadi produsen, bukan konsumtif dan pemalas seperti sekarang ini. Walllahu ‘alam

Ajaran Bahasa Arab di semua sekolah kebangsaan di seluruh negara. Malah Timbalan Perdana Menteri pernah menyuarakan, sukatan bahasa Arab perlu diperkenalkan secara khusus kepada semua pelajar yang mengambil Pendidikan Islam kerana ia mampu membentuk perkembangan pelajar-pelajar Islam sejajar dengan kehendak semasa yang mahukan pelajar menguasai lebih daripada satu bahasa.

Al-Quran secara jelas meletakkan keutamaan terhadap bahasa Arab melalui firman Allah, Sesungguhnya Kami menurunkan kitab itu sebagai al-Quran yang dibaca dengan bahasa Arab, supaya kamu (menggunakan akal untuk) memahaminya. (Yusuf:2).

Bahasa Arab adalah bahasa pilihan Allah dalam menyampaikan mesej kehidupan di dunia dan akhirat kepada manusia. Ini digambarkan di dalam surah Yusuf ayat 28: Iaitu al-Quran yang berbahasa Arab, yang tidak mengandungi sebarang keterangan yang terpesong; supaya mereka bertakwa.

Apakah sebenarnya keistimewaan bahasa Arab? Keistimewaan bahasa Arab lama diperakui dan di dibuktikan oleh pakar-pakar ilmu bahasa (linguisticans), pengkaji bahasa (philogist) dan perkamusan (lexicographers). Bahasa Arab mempunyai kecantikan yang tersendiri dengan susunan irama, urutan kata dan irama kata yang cukup menyentuh jiwa para pendengarnya.

Gabungan ketiga-tiga unsur ini, maka lahirlah rentak dan rima vokal dan konsonan muzik sealunan meliputi penggunaan bibir (labial), gigi (dental), lidah, (lingual), lelangit (palatal) dan kerongkong (guttural).

Ini dapat dibuktikan melalui penggunaan ilmu tajwid seperti yang dipraktiKkan dalam membaca al-Quran. (Islam dan al Hadith: Abdul Halim el Muhammady). Pencinta bahasa Arab akan mendapati bahasa ini turut kaya dengan makna dalam setiap kalimah dan keutuhannya tetap jelas sehingga ke hari ini, meskipun kemunculan slanga, bahasa pasar dan dialek-dialek daerah atau loghat-loghat tertentu yang begitu luas diguna pakai oleh generasi hari ini.

Para ulama bersepakat meletakkan pengetahuan bahasa Arab penting untuk mempelajari, memberi fatwa dan mengajar pengajian Islam. Bahasa Arab turut digelar sebagai lisan al Malaikah (bahasa para malaikat) atau kalam al Jannah (Bahasa ahli syurga).

Rasa cemburu orientalis terhadap bahasa Arab telah membawa kepada usaha-usaha untuk memperkembangkan dialek-dialek daerah bagi menggantikan bahasa Arab klasik, namun hanya menemui kegagalan.

Ini dapat dilihat melalui peristiwa yang berlaku pada tahun 1912 ketika Kongress Orientalis Antarabangsa berlangsung di Athens. Seorang sarjana Mesir yang menghadiri kongres tersebut menolak teori bantuan daripada bahasa tambahan ke dalam bahasa-bahasa lain seperti berlakunya penerimaan dialek Volapuk, Esperant dan Ido ke dalam bahasa Eropah. (Sh Inayatullah, K. Hitti: America and Arab Heritage 1946)

Bahasa Arab memberi satu corak pengaruh cukup besar terhadap perkembangan tamadun manusia sehingga ke hari ini. Sebagaimana diutarakan oleh Prof. Dr. Ayatrohaedi dari Jabatan Arkeologi, Fakulti Ilmu Pengetahuan Budaya, Universiti Indonesia bahawa bahasa Arab telah dijadikan salah satu sumber istilah baru. (Harian Pikiran Rakyat : 30 September 2002)

Kesan pembudayaan Islam di antaranya melalui bahasa Arab meliputi hampir keseluruhan nusantara, salah satunya di semenanjung Tanah Melayu sendiri ketika di bawah pengaruh dan kekuasaan sultan-sultan. Bahasa Melayu telah mengalami perubahan yang besar. Selain diperkaya dengan istilah dan perkataan Arab dan Parsi, bahasa Melayu turut dijadikan bahasa penghantar utama Islam di seluruh Kepulauan Melayu-Indonesia.