Ilmu Faraidh

File berikut memudahkan kita dalam menghitung waris.
Silahkan download disini:

DOWNLOAD

PERINCIAN PEMBAGIAN HARTA WARIS

KERABAT LAKI-LAKI YANG BERHAK MENERIMA PUSAKA ADA 15 ORANG

1. Anak laki-laki
2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki
3. Bapak
4. Kakek / ayahnya ayah
5. Saudara laki-laki sekandung
6. Saudara laki-laki sebapak
7. Saudara laki-laki seibu
8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung
9. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak
10. Suami
11. Paman sekandung
12. Paman sebapak
13. Anak dari paman laki-laki sekandung
14. Anak dari paman laki-laki sebapak
15. Laki-laki yang memerdekakan budak

Selain yang disebut di atas termasuk “dzawil arham”, seperti paman dari pihak ibu, anak laki-laki saudara seibu dan paman seibu, dan anak laki-laki paman seibu dan semisalnya tidak mendapat harta waris. Lihat Muhtashar Fiqhul Islami, hal. 775-776

ADAPUN AHLI WARIS PEREMPUAN SECARA TERINCI ADA 11 ORANG

1. Anak perempuan
2. Cucu perempuan dari anak laki-laki
3. Ibu
4. Nenek / ibunya ibu
5. Nenek / ibunya bapak
6. Nenek / ibunya kakek
7. Saudari sekandung
8. Saudari sebapak
9. Saudari seibu
10. Isteri
11. Wanita yang memerdekakan budak

Semua keluarga wanita selain ahli waris sebelas ini, seperti bibi dan seterusnya dinamakan “dzawil arham”, tidak mendapat harta waris. Lihat Muhtashar Fiqhul Islam, hal. 776

Catatan.
[1]. Bila ahli waris laki-laki yang berjumlah lima belas di atas masih hidup semua, maka yang berhak mendapatkan harta waris hanya tiga saja, yaitu : Bapak, anak dan suami. Sedangkan yang lainnya mahjub (terhalang) oleh tiga ini.

[2]. Bila ahli waris perempuan yang berjumlah sebelas di atas masih hidup semua, maka yang berhak mendapatkan harta waris hanya lima saja, yaitu : Anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki, ibu, isteri, saudari sekandung

[3]. Jika semua ahli waris laki-laki dan perempuan masih hidup semuanya, maka yang berhak mendapatkan harta waris lima saja, yaitu : Bapak, anak, suami, atau isteri, anak perempuan, dan ibu.

PERINCIAN BAGIAN SETIAP AHLI WARIS DAN PERSYARATANNYA.

Bagian Anak Laki-Laki
[1]. Mendapat ashabah (semua harta waris), bila dia sendirian, tidak ada ahli waris yang lain.
[2]. Mendapat ashabah dan dibagi sama, bila jumlah mereka dua dan seterusnya, dan tidak ada ahli waris lain.
[3]. Mendapat ashabah atau sisa, bila ada ahli waris lainnya.
[4]. Jika anak-anak si mayit terdiri dari laki-laki dan perempuan maka anak laki mendapat dua bagian, dan anak perempuan satu bagian. Misalnya, si mati meninggalkan 5 anak perempuan dan 2 anak laki-laki, maka harta waris dibagi 9. Setiap anak perempuan mendapat 1 bagian, dan anak laki-laki mendapat 2 bagian.

Bagian Ayah
[1]. Mendapat 1/6, bila si mayit memiliki anak laki atau cucu laki. Misalnya si mati meninggalkan anak laki dan bapak, maka harta dibagi menjadi 6, Ayah mendapat 1/6 dari 6 yaitu 1, sisanya untuk anak.
[2]. Mendapat ashabah, bila tidak ada anak laki atau cucu laki. Misalnya si mati meninggalkan ayah dan suami, maka suami mendapat ½ dari peninggalan isterinya, bapak ashabah (sisa).
[3]. Mendapat 1/6 plus ashabah, bila hanya ada anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki. Misalnya si mati meninggalkan ayah dan satu anak perempuan. Maka satu anak perempuan mendapat ½, ayah mendapat 1/6 plus ashabah.

Mengenai seorang anak wanita mendapat ½, lihat keterangan berikutnya. Semua saudara sekandung atau sebapak atau seibu gugur, karena ada ayah dan datuk.

Bagian Kakek
[1]. Mendapat 1/6, bila ada anak laki-laki atau cucu laki-laki, dan tidak ada bapak. Misalnya si mati meninggalkan anak laki-laki dan kakek. Maka kakek mendapat 1/6, sisanya untuk anak laki-laki.
[2]. Mendapat ashabah, bila tidak ada ahli waris selain dia
[3]. Mendapat ashabah setelah diambil ahli waris lain, bila tidak ada anak laki, cucu laki dan bapak, dan tidak ada ahli waris wanita. Misalnya si mati meninggalkan datuk dan suami. Maka suami mendapatkan ½, lebihnya untuk datuk. Harta dibagi menjadi 2, suami =1, datuk = 1
[4]. Kakek mendapat 1/6 dan ashabah, bila ada anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki. Misalnya si mati meninggalkan kakek dan seorang anak perempuan. Maka anak perempuan mendapat ½, kakek mendapat 1/6 ditambah ashabah (sisa).

Dari keterangan di atas, bagian kakek sama seperti bagian ayah, kecuali bila selain kakek ada isteri atau suami dan ibu, maka ibu mendapat 1/3 dari harta waris, bukan sepertiga dari sisa setelah suami atau isteri mengambil bagianya.

Adapun masalah pembagian kakek, bila ada saudara dan lainnya, banyak pembahasannya. Silahkan membaca kitab Mualimul Faraidh, hal. 44-49 dan Tashil Fara’idh, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 28 dan kitab lainnya.

Bagian Suami
[1]. Mendapat ½, bila isteri tidak meninggalkan anak atau cucu dari anak laki.
[2]. Mendapat ¼, bila isteri meninggalkan anak atau cucu. Misalnya, isteri mati meninggalkan 1 laki-laki, 1 perempuan dan suami. Maka suami mendapat ¼ dari harta, sisanya untuk 2 orang anak, yaitu bagian laki-laki 2 kali bagian anak perempuan

Bagian Anak Perempuan
[1]. Mendapat ½, bila dia seorang diri dan tidak ada anak laki-laki
[2]. Mendapat 2/3, bila jumlahnya dua atau lebih dan tidak ada anak laki-laki
[3]. Mendapat sisa, bila bersama anak laki-laki. Putri 1 bagian dan, putra 2 bagian.

Bagian Cucu Perempuan Dari Anak Laki-Laki
[1]. Mendapat ½, bila dia sendirian, tidak ada saudaranya, tidak ada anak laki-laki atau anak perempuan.
[2]. Mendapat 2/3, jika jumlahnya dua atau lebih, bila tidak ada cucu laki-laki, tidak ada anak laki-laki atau anak perempaun.
[3]. Mendapat 1/6, bila ada satu anak perempuan, tidak ada anak laki-laki atau cucu laki-laki
[4]. Mendapat ashabah bersama cucu laki-laki, jika tidak ada anak laki. Cucu laki-laki mendapat 2, wanita 1 bagian. Misalnya si mati meninggalkan 3 cucu laki-laki dan 4 cucu perempuan. Maka harta dibagi menjadi 10 bagian. Cucu laki-laki masing-masing mendapat 2 bagian, dan setiap cucu perempuan mendapat 1 bagian.

Bagian Isteri
[1]. Mendapat ¼, bila tidak ada anak atau cucu
[2]. Mendapat 1/8, bila ada anak atau cucu
[3]. Bagian ¼ atau 1/8 dibagi rata, bila isteri lebih dari satu

Bagian Ibu
[1]. Mendapat 1/6, bila ada anak dan cucu
[2]. Mendapat 1/6, bila ada saudara atau saudari
[3]. Mendapat 1/3, bila hanya dia dan bapak
[4]. Mendapat 1/3 dari sisa setelah suami mengambil bagiannya, jika bersama ibu dan ahli waris lain yaitu bapak dan suami. Maka suami mendapat ½, ibu mendapat 1/3 dari sisa, bapak mendapatkan ashabah (sisa)
[5]. Mendapat 1/3 setelah diambil bagian isteri, jika bersama ibu ada ahli waris lain yaitu bapak dan isteri. Maka isteri mendapat ¼, ibu mendapat 1/3 dari sisa, bapak mendapatkan ashabah (sisa).

Sengaja no. 4 dan 5 dibedakan, yaitu 1/3 dari sisa setelah dibagikan kepada suami atau isteri, bukan 1/3 dari harta semua, agar wanita tidak mendapatkan lebih tinggi daripada laki-laki. Lihat Muhtashar Fiqhul Islami, hal. 778-779 dan Al-Mualimul Fara’idh, hal. 35

Bagian Nenek
Nenek yang mendapat warisan ialah ibunya ibu, ibunya bapak, ibunya kakek.
[1]. Tidak mendapat warisan, bila si mati meninggalkan ibu, sebagaimana kakek tidak mendapatkan warisan bila ada ayah.
[2] Mendapat 1/6, seorang diri atau lebih, bila tidak ada ibu. Lihat Muhtashar Fiqhul Islami, hal. 780

Bagian Saudari Sekandung
[1]. Mendapat ½, jika sendirian,tidak ada saudara sekandung, bapak, kakek, anak.
[2]. Mendapat 2/3, jika jumlahnya dua atau lebih, tidak ada saudara sekandung, anak, bapak, kakek.
[3]. Mendapat bagian ashabah, bila bersama saudaranya, bila tidak ada anak laki-laki, bapak. Yang laki mendapat dua bagian, perempuan satu bagian.

Bagian Saudari Sebapak
[1]. Mendapat ½, jika sendirian, tidak ada bapak, kakek, anak dan tidak ada saudara sebapak,saudara ataupun saudara sekandung
[2]. Mendapat 2/3, jika dua ke atas, tidak ada bapak, kakek, anak dan tidak ada saudara sebapak, saudara ataupun saudara sekandung.
[3]. Mendapat 1/6 baik sendirian atau banyak, bila ada satu saudari sekandung, tidak ada anak, cucu, bapak, kakek, tidak ada saudara sekandung dan sebapak.
[4]. Mendapat ashabah, bila ada saudara sebapak. Saudara sebapak mendapat dua bagian, dan dia satu bagian.

Bagian Saudara Seibu
Saudara seibu atau saudari seibu sama bagiannya
[1]. Mendapat 1/6, jika sendirian, bila tidak ada anak cucu, bapak, kakek.
[2]. Mendapat 1/3, jika dua ke atas, baik laki-laki atau perempuan sama saja, bila tidak ada anak, cucu, bapak, kakek.

[Ditulis berdasarkan kitab Mualimul Fara’idh, Tashil Fara’idh (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin), Mukhtashar Fiqhul Islam, dan kitab-kitab lainnya]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Khusus/Tahun IX/1426H/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]

File berikut memudahkan kita dalam menghitung waris.
Silahkan download disini:

DOWNLOAD

Keistimewaan Bahasa Arab.

Agustus 5, 2009 1 komentar

al-quranBarangkali ada sebagian dari kita, termasuk kaum muslimin, masih muncul pertanyaan dalam dirinya: ”Mengapa Al-Quran, wahyu Alloh yang diturunkan melalui Rasululloh Muhammad, menggunakan bahasa Arab sebagai mediatornya?

Mengapa bukan Bahasa Inggris, yang notabene saat ini merupakan bahasa terbesar di dunia? Atau Bahasa Indonesia, atau Bahasa Jawa?”

Pada prinsipnya pastilah Alloh yang Maha Sempurna mempunyai alasan yang bagus mengenai masalah ini, yang di luar kemampuan dan pengetahuan kita. Mengapa Al-Qur’an berbahasa Arab? Alasannya pastilah terkait dengan karakteristik Al-Qur’an itu sendiri, sehingga bahasa lain dianggap tidak layak digunakan oleh Al-Qur’an. Maka untuk menjawabnya, kita perlu tahu karakteristik Al-Qur’an itu sendiri.

1.      Al-Qur’an berlaku sepanjang masa

Berbeda dengan kitab suci agama lain yang hanya berlaku untuk masa yang terbatas , Al-Qur’an sebagai kitab suci diberlakukan untuk masa waktu yang tak terhingga, bahkan sampai datangnya kiamat. Maka bahasa yang digunakan Al-Qur’an haruslah bahasa yang tetap digunakan oleh umat manusia sepanjang zaman.

Kenyataannya, sejarah manusia belum pernah mengenal sebuah bahasa pun yang tetap eksis sepanjang sejarah . Setiap bahasa punya usia, selebihnya hanya tinggal peninggalan sejarah. Bahkan bahasa Inggris sekalipun masih mengalami kesenjangan sejarah. Maksudnya, bahasa Inggris yang digunakan pada hari ini jauh berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang Inggris di abad pertengahan. Kalau Ratu Elizabeth II masuk ke lorong waktu dan bertemu dengan King Arthur, yang hidup di abad pertengahan, pastilah mereka tidak bisa berkomunikasi, meski sama-sama penguasa Inggris di zamannya. Mengapa?

Karena meski namanya masih bahasa Inggris, tapi kenyataannya bahasa keduanya jauh berbeda. Karena setiap bahasa mengalami perkembangan, baik istilah maupun grammar-nya. Setelah beratus tahun kemudian, bahasa itu sudah jauh mengalami deviasi yang serius.

Yang demikian itu tidak pernah terjadi pada bahasa Arab. Bahasa yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai orang arab yang hidup di abad ke-7 masih utuh dan sama dengan bahasa yang dipakai oleh Raja Abdullah, penguasa Saudi Arabia di abad 21 ini. Kalau seandainya keduanya bertemu dengan mesin waktu, mereka bisa berbincang-berbincang hingga subuh dengan menggunakan bahasa arab.

Dengan kenyataan seperti ini, wajarlah bila Allah SWT. memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an yang abadi. Kalau tidak, boleh jadi Al-Qur’an sudah musnah seiring dengan musnahnya bahasanya.

2.      Al-Qur’an Mengandung Informasi yang Padat

Diantara keistimewaan bahasa arab adalah kemampuannya menampung informasi yang padat di dalam huruf-huruf yang singkat. Sebuah ungkapan yang hanya terdiri dari dua atau tiga kata dalam bahasa arab, mampu memberikan penjelasan yang sangat luas dan mendalam. Sebuah kemampuan yang tidak pernah ada di dalam bahasa lain.

Makanya, belum pernah ada terjemahan Al-Qur’an yang bisa dibuat dengan lebih singkat dari bahasa arab aslinya. Semua bahasa umat manusia akan bertele-tele dan berpanjang-panjang ketika menguraikan isi kandungan tiap ayat. Sebagai contoh, lafadz ‘ain dalam bahasa arab artinya ‘mata’, ternyata punya makna lain yang sangat banyak. Kalau kita buka kamus dan kita telusuri kata ini, selain bermakna mata juga punya sekian banyak makna lainnya. Di dalam kamus kita mendapati makna lainnya, seperti manusia, jiwa, hati, mata uang logam, pemimpin, kepala, orang terkemuka, macan, matahari, penduduk suatu negeri, penghuni rumah, sesuatu yang bagus atau indah, keluhuran, kemuliaan, ilmu, spion, kelompok, hadir, tersedia, inti masalah, komandan pasukan, harta, riba, sudut, arah, segi, telaga, pandangan, dan lainnya.

Bahasa lain tidak punya makna yang sedemikian padat yang hanya terhimpun dalam satu kata dan hurufnya hanya ada tiga. Dan wajar pula bila Alloh SWT berkenan menjadi bahasa arab sebagai bahasa untuk firman-Nya yang abadi.

3.      Al-Qur’an Mudah Dibaca dan Dihafal

Sesuai dengan fungsi Al-Qur’an yang salah satunya sebagai pedoman hidup pada semua bidang kehidupan, Al-Qur’an harus berisi beragam materi dan informasi sesuai dengan beragam disiplin ilmu. Dan kita tahu bahasa dan istilah yang digunakan di setiap disiplin ilmu pasti berbeda-beda. Dan sangat boleh jadi seorang yang ahli di dalam sebuah disiplin ilmu akan menjadi sangat awam bila mendengar istilah-istilah yang ada di dalam disiplin ilmu lainnya.

Dan kalau beragam petunjuk yang mencakup beragama disiplin ilmu itu harus disatukan dalam sebuah kitab yang simpel, harus ada sebuah bahasa yang mudah, sederhana tapi tetap mengandung banyak informasi penting di dalamnya. Bahasa itu adalah bahasa Arab. Karena bahasa Arab mampu mengungkapkan beragam informasi dari beragam disiplin ilmu, namun tetap cair dan mudah dimengerti. Dan saking mudahnya, bahkan bisa dihafalkan di luar kepala.

Salah satu karakteristik bahasa Arab adalah mudah untuk dihafalkan, bahkan penduduk gurun pasir yang tidak bisa baca tulis pun mampu menghafal jutaan bait syair. Dan karena mereka terbiasa menghafal apa saja di luar kepala, sampai-sampai mereka tidak terlalu butuh lagi dengan alat tulis atau dokumentasi. Kisah cerita yang tebalnya berjilid-jilid buku, bisa digubah oleh orang arab menjadi jutaan bait puisi dalam bahasa arab dan dihafal luar kepala dengan mudah. Barangkali fenomena ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tulis menulis kurang berkembang di kalangan bangsa arab saat itu. Buat apa menulis, kalau semua informasi bisa direkam di dalam otaknya?

Maka sangat wajar kalau Alloh SWT menjadikan bahasa arab sebagai bahasa Al-Qur’an.

4.      Al-Qur’an Indah dan Tidak Membosankan

Salah satu keunikan bahasa arab adalah keindahan sastranya tanpa kehilangan kekuatan materi kandungannya. Sedangkan bahasa lain hanya mampu salah satunya. Kalau bahasanya indah, kandungan isinya menjadi tidak terarah. Sebaliknya, kalau isinya informatif maka penyajiannya menjadi tidak asyik diucapkan.

Ada sebuah pintu perlintasan kereta api yang modern di Jakarta. Setiap kali ada kereta mau lewat, secara otomatis terdengar rekaman suara yang membacakan peraturan yang terkait dengan aturan perlintasan kereta. Awalnya, masyarakat senang mendengarkannya, tapi ketika setiap kali kereta mau lewat, suara itu terdengar lagi, maka orang-orang menjadi jenuh dan bosan. Bahkan mereka malah merasa terganggu dengan rekaman suara itu. Ada-ada saja komentar orang kalau mendengar rekaman itu berbunyi secara otomatis.

Tapi lihatlah surat Al-Fatihah, dibaca orang ribuan kali baik di dalam shalat atau di luar shalat, belum pernah ada orang yang merasa bosan atau terusik ketika diperdengarkan. Bahkan bacaan Al-Qur’an itu begitu sejuk di hati, indah dan menghanyutkan. Itu baru pendengar yang buta bahasa arab. Sedangkan pendengar yang mengerti bahasa arab, pasti ketagihan kalau mendengarnya.

Tidak ada satu pun bahasa di dunia ini yang bisa tetap terdengar indah ketika dibacakan, namun tetap mengandung informasi kandungan yang kaya, kecuali bahasa arab. Maka wajarlah bila Alloh SWT berfirman dengan bahasa arab.

Apa yang kami sampaikan ini baru sebagai kecil dari sekian banyak hikmah diturunkannya Al-Qur’an dengan bahasa arab. Kita tidak tahu apa jadinya bila Al-Qur’an ini tidak berbahasa arab. Mungkin bisa jadi Al-Qur’an hanya ada di musium saja.

Dan jikalau Kami jadikan al-Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?… . [QS. Fushshilat: 44]

Wallohu a’lam bish-showab

Khutbah Jum’at Bahasa Jawa

Maret 15, 2009 29 komentar

(Hoeda Salam) M. Abduh Tuasikal, ST. dalam tulisannya menyebutkan bahwa, suatu ketika Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya:

Apa hukum khutbah jum’at dengan bahasa selain bahasa Arab?

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab:
Yang benar dalam masalah ini adalah tidak boleh bagi khotib berbicara ketika khutbah jum’at dengan bahasa yang tidak dipahami oleh jama’ah yang hadir. Apabila jama’ah tersebut bukan orang Arab dan tidak paham bahasa Arab, maka khotib lebih tepat berkhutbah dengan bahasa mereka karena bahasa adalah pengantar agar sampai penjelasan kepada mereka. Alasan lain, maksud dari khutbah adalah untuk menjelaskan hukum Allah subhanahu wa ta’ala pada hamba-Nya, juga memberikan nasehat dan petunjuk. Namun ketika membaca ayat Al Qur’an haruslah dengan bahasa Arab, lalu setelah itu boleh ditafsirkan dengan bahasa yang jama’ah pahami.

Dalil yang menunjukkan bahwa khutbah diharuskan dengan bahasa yang jama’ah pahami adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Tidaklah kami mengutus seorang Rasul kecuali dengan bahasa kaumnya untuk memberi penjelasan pada mereka.” (QS. Ibrahim: 4)
Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa agar sampainya penjelasan, hendaklah pembicara menggunakan bahasa yang dipahami oleh orang yang diajak bicara.

Demikian fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah.

Kesimpulannya:

Khutbah sebaiknya menggunakan bahasa yang dipahami oleh orang yang diajak bicara. Jadi, jika kita di Indonesia, maka khotib seharusnya menggunakan bahasa Indonesia, bukan dengan bahasa Arab. Kecuali memang yang diharuskan menggunakan bahasa arab, seperti kutipan ayat al-Qur’an. Jadi khutbah adalah wasiat kepada jama’ah agar melakukan perbuatan yang baik, jika khotib berbicara dan jama’ah tidak faham apa isi khutbah, maka tidak ada transformasi nilai.

Padahal ketika shalat jumat adalah waktu berkumpulnya banyak orang dan sangat manfaat sekali jika kita dapat menjelaskan aqidah dan hukum Islam dengan bahasa yang mereka pahami. Bahkan kalau kita berada di daerah yang paham bahasa jawa, maka seharusnya kita menggunakan bahasa tersebut agar jama’ah yang mendengar khutbah benar-benar paham pada isi khutbah. Bagi yang berasal dari jawa, tentu ingin khutbah dengan bahasa jawa, begitu pula saudara-saudara kita yang berasal dari daerah lain.

Untuk membantu pembaca yang menginginkan teks khutbah berbahasa Jawa silahkan download materi khutbah dibawah ini yang kami ambilkan dari berbagai sumber. Semoga Allah selalu bersama kita.

1. Muqaddimah Khutbah

2. Anggayuh Kabegjan

3. Kautamaan Wulan Romadlon

4. Birrul Walidain

5. Kautamaan Istighfar lan Taubat

6. Tulung Tinulung Ing Dalem Kebagusan


 

 

 

 

 

 

 

Dan juga kami sediakan teks khutbah bagi pembaca yang menginginkan berbahasa Indonesia. Silahkan download materi khutbah dibawah ini. Semoga bermanfaat bagi kita. Wallahu a’lam.

1. Tawadlu’

2. Menjaga Martabat Kemanusiaan

3. Kumpulan Khutbah Jum’at

4. …

Peradaban Islam Masa Khulafa al-Rasyidun

Januari 10, 2009 2 komentar

1.      Pembukuan Al-Qur’an

Penulisan ayat-ayat al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad, bahkan sejak awal diturunkannya al-Qur’an yang diwahyukan secara berangsur-angsur selama sekitar 23 tahun.

Setelah Rasulullah wafat dan Abu Bakar menjadi Khalifah, terjadi Perang Yamamah yang merenggut korban kurang lebih 70 sahabat penghafal al-Qur’an. Banyaknya sahabat yang gugur dalam peristiwa tersebut timbul kekhawatiran dikalangan sahabat khususnya Umar ibn al-Khattab akan menyebabkan hilangnya al-Qur’an. Uamar menyarankan kepada Abu Bakar dan beliau menyetujuinya. Kemudian ditunjuklah Zaid ibn Tsabit dengan berpegang pada tulisan yang tersimpan di rumah Rasulullah, hafalan dari sahabat dan naskah yang ditulis oleh para sahabat untuk dirinya sendiri.

2.      Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Di beberapa wilayah perkotaan jumlah penduduknya lebih banyak dan alat-alat lebih lengkap, yang timbul dari banyaknya sumber pencaharian yang disebabkan oleh suburnya tanah atau cepatnya pertukaran barang dengan orang lain. Banyaknya penduduk diikuti dengan kemakmuran yang memungkinkan bagi mereka meluangkan waktu untuk kegiatan mencari nafkah, diikuti pula dengan meningkatnya pemikiran penduduk. Dengan demikian muncullah pendapat-pendapat, ilmu dan akan berkembang pada kesusastraan.

Lahirnya ilmu Qira’at erat kaitanya dengan membaca dan mempelajari al-Qur’an. Terdapatnya beberapa dialek bahasa dalam membaca al-Qur’an, dikawatirkan akan terjadi kesalahan dalam membaca dan memahaminya. Oleh karenanya diperlukan standarisasi bacaan dengan kaidah-kaidah tersendiri. Apalagi bahasa Arab yang tidak bersyakal tertentu menimbulkan kesulitan dalam membacanya. Untuk mempelajarinya khalifah Umar telah mengutus Muadz ibn Jabbal ke Palestina, Ibadah ibn as-Shamit ke Hims, Abu Darda’ ke Damaskus, Ubay ibn Ka’ab dan Abu Ayyub tetap di Madinah.

Menafsirkan al-Qur’an adalah keperluan dasar untuk memahami ayat-ayyat, sebagaimana telah dijelaskan sendiri oleh Rasulullah baik dengan ayat-ayat al-Qur’an maupun dengan al-Hadits. Ini tahap awal dari munculnya Ilmu Tafsi. Beberapa sahabat telah mempelajari dan menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan apa yang mereka terima dari Rasul, diantaranya: Ali ibn Abi Tholib, Abdullah ibn Abbas, Abdullah ibn Mas’ud dan Abdullah ibn Ka’ab.

Ilmu Hadits belum dikenal pada masa Khulafa al-Rasyidun tetapi pengetahuan tentang hadis tersebar luas dikalangan umat Islam. Usaha mempelajari dan menyebarkan hadit, seiring dengan kegiatan mempelajari dan menyebarkan al-Qur’an. Untuk memahami al-Qur’an tidak dapat dilepaskan dari pengetahuan tentang hadis.beberapa sahabat yang menyebarluaskan hadis atas perintah Umar adalah Abdullah ibn mAs’ud ke Kota Kuffah, Ma’kal ibn Yassar ke Basrah, Ibadah ibn Shamit dan Abu Darda’ ke Syiria.

Ilmu Nahwu lahir dan berkembang di Basrah dan kuffah, karena di dua kota tersebut banyak bermukim kabilah Arab yang berbicara dengan bermacam dialek bahasa. Disana juga bermukim orang-orang yang berbahasa Persia. Ali ibn Abi Thalib adalah pembina dan penyusun pertama dasar ilmu nahwu. Abu Aswad ad-Duali (masa Bani Umayyah) belajar kepadanya.

Khath al-Qur’an berkaitan erat dengan penulisan dan penyebaran al-Qur’an. Dalam Islam seni menulis al-Qur’an sangat dihargai, dan tidak satu aksara pun di dunia ini menjadi seni artistik yang hebat seperti aksara arab. Orang Arab belajar tulisan Nabti / Naskhi dari perdagangan keluar Syam, tulisan Kufi dari Irak.

Pertumbuhan Ilmu Fiqh tidak dapat dilepaskan dari al-Qur’an dan Hadis sebagai sumbernya, karena itu tidak mengherankan jika ahli-ahli fiqih pada umumnya terdiri dari mereka yang ahli pula yang ahli al-Quran dan sunnah atau al-Hadits. Beberapa sahabat yang mempunyai keahlian dalam bidang fiqih: Umar ibn Khatthab, Ali ibn Abi Thalib, Zaid ibn Tsabit (tinggal di Makkah), Abdullah ibn Abas (Makkah), Abdullah ibn Mas’ud (Kuffah), Anas ibn Malik (Basrah) dll.

Al-Harits ibn Kaladah yang berasal dari Thaif (w. 13 H), tercatat sebagai seorang dokter pada masa permulaan awal Islam.

3.      Perkembangan Sastra

Sastra adalah inti seni, bagaikan tercermin dari segala yang hidup dikalangan bangsa Arab, baik yang bersifat spiritual, politik, maupun selain keduanya. Islam terkait dan tak dapat dipidahkan dari bahasa Arab melalui al-Qur’an. Kesusteraan Arab dimulai dengan lembaran yang tak mungkin dicipta oleh manusia. Tebukti bahasa Arab merupakan bahasa yang sempurna dalam menangani topik yang sangat halus dari bentuk bahasa yang ditampilkan.

Pengamat sastra pada umumnya menyatakan ada dua pendapat tentang perkembangan sastra masa Khulafa al-Rasyidun :

1.      sastra mengalami stagnasi karena perhatian yang lebih kepada bahasa al-Qur’an, sehingga sair dan sastra kurang berkembang.

2.      al-Qur’an sebagai sumber inspirasi untuk kegiatan sastra, karena dalam berdakwah diperlukan bahasa yang indah. Pengaruh Qur’an dan Hadis tidak bisa dilepaskan karena keduanya menjadi sumber pokok ajaran Islam.

Secara khusus dijelaskan bahwa puisi pada masa tersebut tidak jauh dari puisi pada masa Rasul, yang juga tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya (Jahiliyah). Maksudnya bahwa puisi kurang majudan berkembang kerena lebih memperhatikan al-Qur’an, sehingga aroma struktural kata dalam puisi sangat terpengaruh oleh al-Qur’an. Prosa  tertuang dalam 2 bentuk yaitu Khithabah ( bahasa pidato) dan kitabah (bahasa korespondensi). Khithabah menjadi alat yang paling efektif untuk berdakwah mengalami kesempurnaannya karena pengaruh al-Qur’an. Ruhnya khitabah adalah Rasul dan para khalifah, kereka adalah pemimpin yang sekaligus sastrawan, mereka sangat  baligh dan fasih dalam berkhotbah. Ahli pidato yang sangat terkenal adalah Ali ibn Abi Thalib, khutbahnya dikumpulkan dalam kitab ”Nahj al-Balaghah Tentang  Kitabah tidak mengalami kemajuan sepesat  khithabah meskipun di dalamnya banyak didapatkan nilai-nilai sastra.

Para penyair dua masa yaitu pra Islam dan masa Islam disebut ”Mukhadhram”, seperti Hasan ibn Tsabit dan Kaab ibn Zuhair. Hasan ibn Tsabir adalah penyair rumah tangga Rasul, ia selalu mengubah syair-syairuntuk membela Islam dan memuliakan Rasulnya.

4.      Perkembangan Arsitektur

Arsiteksturdalam Islam dimulaitumbuhnyadari masjid. Masjid Quba didirikan oleh Rasulullah dalam perjalananhijrah sebelum sampai di Madinah. Sesampainya beliau di kota Madinah, didirikannya pula sebuah masjid yang belum mempunyai  nilai seni. Sungguhpun demikian masjid tersebut telah memberikan tempat bertolak bagi kesenian Islam. Beberapa masjid yang dibangun dan diperbaiki pada masa Khulafa’ al-Rasyidun yaitu:

1.      Masjid al-Haram adalah satu dari tiga masjid yang paling mulia dalam Islam. Masjid ini dibangun disekitar Ka’bah yang dibangun oleh niabi Ibrahim. Khalifah Umar mulai memperluas masjid yang pada masa masa Rasulullah masih amat sangat sederhana, dengan memberi rumah-rumah disekitarnya. Masjid dikelilingi dengna tembok batubata setinggi 1.5 meter. Pada khalifah Usman (26 H) masjid al-Haram diperluas.

2.      Masjid Madinah (Nabawi) didirikan oleh Rasulullah pada saat pertama kali tiba di Madinah dari perjalanan Hijrahnya. Masjid tersebut didirikan di tempat unta tersebut berhenti. Dengan bertambahnya umat Islam khalifah Umar mulai memperluas masjid ini(17 H).

3.      Masjid al-Atiq, masjid ini yang pertama kali didirikan di Mesir (21 H) terletak di utara benteng Babilon. Masjid ini tidak bermihrab mempunyai tiga pintu dilengkapi dengan tempat berteduh bagi musafir.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan islam, Jilid I, terj. Mukhtar Yahya (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1983).

Ahmad Amin, Isllam dari Masa ke Masa cet. I (Bnadung: CV. Rusyida,1987)

C. Israr, Sejarah Kesenian Islam, jilid I, cet. II (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), dan Ibnu al-Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh, jilid III.

Dirjen Binbaga Islam Departemen Agama RI, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, jilid I (Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama IAIN Alauddin, 1981/1982)

Hassan Ibrahim Hassan, Tarikh al-Islam as-Siyasi wa ad-Diny wa ats-Tsaqafi wa al-Ijtima’iy, cet III, (Kairo: Maktabah an-Nahdlah al-Mishriyah, 1964).

Harun Nasution, Islam ditinjau Dari Berbagai aspeknya, jilid I (Jakarta: UI Press, 1985)

Hasyimi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979)

G.E. Bosworth, Dinasti-Dinasti Islam, Terjl Ilyas Hasan (Bandung: Mizan, 1980).

Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, bagian I dan II, terj. Ghufran A. Mas’adi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000)

Marshall G. S. Hodgson, The ventureof Islam, vol.1 (chicago &London:The University of Chicago Press, 1974);Hamka, sejarah Umat Islami, cet. II (singapura: Pustaka Nasional Pte. Ltd,1997)

Nourouzzaman Shiddiqi, Tamaddun Muslim (Jakarta: Bulan Bintang, 1986)

P. K. Hitti, Dunia Arab Secara Ringkas, Terj. Ushuluddin Hutagalung (Bandung: Vorkink-Van Hoeve’s Gravenhage),

Pederson Johannesi, Fajar Intelektualisme Islam, terj. Alwiyah Abdurrahman (Bandung: Mizan, 1984).

Syed Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, terj. Dadang Afandi (Bandung: CV. Rosida, 1988).

Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan, dan Shiddiqi, Tamaddun Muslim; juga Ibn al-Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh, jilid III,

Syibli Nu’man, Umar yang Agung ( Bandung: Penerbit Pustaka, 1981)

Bahasa Arab di Tengah Globalisasi

Januari 7, 2009 1 komentar

Tak diragukan lagi pentingnya bahasa Arab bagi umat Islam, terutama. Ia bahasa al-Qur’an dan Hadis, dua pilar pokok dalam Islam. Hal yang wajar dan tak bisa disederhanakan, apalagi dituduh arabisme ketika Imam Syafi’i dalam ar-Risalahnya, disusul kemudian pengarang kitab yang lagi digandungi sarjana Islam – Imam Syathibi dalam Muwafaktnya – mensyaratkan bagi siapa-siapa yang mau berijtihad untuk terlebih dahulu menguasai ilmu bahasa Arab. Bahasa Arab juga adalah bahasa Ilmu, terutama keilmuan Islam klasik. Beratus-ratu ribu buku dari berbagai disiplin ilmu warisan nenek moyang kita memakai bahas Arab. Keistimewaan lain bahasa Arab, dibanding bahasa-bahasa dunia lainnya, adanya ikatan kuat dengan agama. Karena kitab suci agama Islam diturunkan dengan bahasa Arab. Sementara bahasa asli Taurat dan Injil kini sudah punah. Pada masanya dulu, tepatnya sebelum Barat memasuki masa renaissance, berabad-abad lamanya bahasa Arab jadi bahasa dunia. Ia merupakan bahasa politik, ekonomi, bahkan dunia keilmuan. Ada beberapa sebab yang membuatnya jadi bahasa peradaban dunia, dimana setiap orang yang berkeinginan maju, merasa berkewajiban menguasainya. Diantaranya yang paling penting adalah:

Adanya proyek Arabisasi buku-buku administrasi pemerintahan pada masa dinasti Mu’awiyah (Khalifah Abd. Malik 685-705 M dan anaknya al-Walid *705-710 M) yang mau tidak mau memaksa para pegawai pemerintahan yang tak bisa berbahasa Arab untuk belajar bahasa Arab.

Proyek terjemahan, terutama buku-buku keilmuan, secara besar-besaran pada masa dinasti Abasiah (200 H/ 900 M), dari bahasa Yunani, India, Suryani ke dalam bahasa Arab, yang mengakibatkan orang Islam menjadi bangsa yang luar biasa kreatif dan kemudian menjadikan Islam sebagai kiblat keilmuan dan peradaban dunia

 

Kondisi Bahasa Arab Sekarang

Keadaan diatas itu terjadi dulu. Kalau kita amati sekarang, kondisinya akan tampak berbalik. Apalagi sejak memasuki era globalisasi, keadaannya makin mengkhawatirkan. Bahasa Arab perlahan tapi pasti posisinya mulai tergusur, dan bahasa Inggris menahbiskan diri sebagai bahasa nomor satu dunia. Pemasalahannya tidak berhenti sampai di situ. Akibat globalisasi zaman, dan budaya konsumtif yang tinggi dikalangan negara Arab, ditambah ledakan informasi, secara sadar atau tidak sadar, mau atau tak mau, bahasa Inggris meringsek masuk ke dalam sistem-sistem sosial di kalangan Arab sendiri. Misalnya, dalam bidang pendidikan, banyak sekolah-sekolah di sana, terutama dalam mata pelajaran eksakta: Kimia, Fisika, Matematika dan biologi, bukunya menggunakan bahasa Inggris.

Begitu juga dalam dunia teknologi, kosa kata asing tak kuasa untuk dibendung. Celakanya kemudian bahasa itu diterima apa adanya, karena secara level sosial akan dinggap sebagai orang modern. Perubahan kalimat asing hanya dari sisi tulisan –dari latin ke arab-, bunyi tetap sama: laptop, mouse, keybord, mobile, oke, dll. Kondisinya tidak seperti abad dua Hijriah dulu. Walaupun kosa-kata asing banyak bermunculan, tapi tidak langsung dimakan mentah-mentah. Ada proses yang sangat ketat, dimana kosa kata asing sedapat mungkin dicarikan kosa kata yang semakna, kalau tidak ada dilakukan penerjemahan, kemudian kalau masih tak bisa baru diterima apa adanya.

Dalam kehidupan sosial juga penggunaan bahasa yang keinggris-inggrisan sedang digandrungi masyarakat Arab. Kondisi yang sungguh memprihatinkan. Kita selalu berharap pada lembaga-lembaga kajian bahasa Arab untuk segera melakukan tindakan-tindakan preventif, misalnya melakukan penerjemahan kata-kata asing dan melakukan gerakan cinta bahasa Arab, dst.

Kita tak memungkiri apalagi anti bahasa Inggris, atau bahasa asing lainnya. Semuanya penting untuk kita pelajari dan kita kuasai! Tapi sikap toleran itu tidak kemudian menggerus dan meninggalkan bahasa Ibu, sebagai identitas bangsa yang punya harga diri. Karena fenomena yang terjadi, penggunaan bahasa asing itu, ada indikasi, lebih sebagai sebentuk keminderan atas bahasa sendiri. Mereka merasa sebagai orang ‘maju’ ketika menggunakan bahasa asing.

Himbauan kepada lembaga-lembaga kajian bahasa Arab saja tidak cukup tentunya. ‘Serangan’ itu akan terus bertubi-tubi, bahkan makin dahsyat selama mereka tak mau mencontoh nenek moyangnya dulu, yaitu menjadi bangsa yang sangat kreatif. Menjadi produsen, bukan konsumtif dan pemalas seperti sekarang ini. Walllahu ‘alam

Ajaran Bahasa Arab di semua sekolah kebangsaan di seluruh negara. Malah Timbalan Perdana Menteri pernah menyuarakan, sukatan bahasa Arab perlu diperkenalkan secara khusus kepada semua pelajar yang mengambil Pendidikan Islam kerana ia mampu membentuk perkembangan pelajar-pelajar Islam sejajar dengan kehendak semasa yang mahukan pelajar menguasai lebih daripada satu bahasa.

Al-Quran secara jelas meletakkan keutamaan terhadap bahasa Arab melalui firman Allah, Sesungguhnya Kami menurunkan kitab itu sebagai al-Quran yang dibaca dengan bahasa Arab, supaya kamu (menggunakan akal untuk) memahaminya. (Yusuf:2).

Bahasa Arab adalah bahasa pilihan Allah dalam menyampaikan mesej kehidupan di dunia dan akhirat kepada manusia. Ini digambarkan di dalam surah Yusuf ayat 28: Iaitu al-Quran yang berbahasa Arab, yang tidak mengandungi sebarang keterangan yang terpesong; supaya mereka bertakwa.

Apakah sebenarnya keistimewaan bahasa Arab? Keistimewaan bahasa Arab lama diperakui dan di dibuktikan oleh pakar-pakar ilmu bahasa (linguisticans), pengkaji bahasa (philogist) dan perkamusan (lexicographers). Bahasa Arab mempunyai kecantikan yang tersendiri dengan susunan irama, urutan kata dan irama kata yang cukup menyentuh jiwa para pendengarnya.

Gabungan ketiga-tiga unsur ini, maka lahirlah rentak dan rima vokal dan konsonan muzik sealunan meliputi penggunaan bibir (labial), gigi (dental), lidah, (lingual), lelangit (palatal) dan kerongkong (guttural).

Ini dapat dibuktikan melalui penggunaan ilmu tajwid seperti yang dipraktiKkan dalam membaca al-Quran. (Islam dan al Hadith: Abdul Halim el Muhammady). Pencinta bahasa Arab akan mendapati bahasa ini turut kaya dengan makna dalam setiap kalimah dan keutuhannya tetap jelas sehingga ke hari ini, meskipun kemunculan slanga, bahasa pasar dan dialek-dialek daerah atau loghat-loghat tertentu yang begitu luas diguna pakai oleh generasi hari ini.

Para ulama bersepakat meletakkan pengetahuan bahasa Arab penting untuk mempelajari, memberi fatwa dan mengajar pengajian Islam. Bahasa Arab turut digelar sebagai lisan al Malaikah (bahasa para malaikat) atau kalam al Jannah (Bahasa ahli syurga).

Rasa cemburu orientalis terhadap bahasa Arab telah membawa kepada usaha-usaha untuk memperkembangkan dialek-dialek daerah bagi menggantikan bahasa Arab klasik, namun hanya menemui kegagalan.

Ini dapat dilihat melalui peristiwa yang berlaku pada tahun 1912 ketika Kongress Orientalis Antarabangsa berlangsung di Athens. Seorang sarjana Mesir yang menghadiri kongres tersebut menolak teori bantuan daripada bahasa tambahan ke dalam bahasa-bahasa lain seperti berlakunya penerimaan dialek Volapuk, Esperant dan Ido ke dalam bahasa Eropah. (Sh Inayatullah, K. Hitti: America and Arab Heritage 1946)

Bahasa Arab memberi satu corak pengaruh cukup besar terhadap perkembangan tamadun manusia sehingga ke hari ini. Sebagaimana diutarakan oleh Prof. Dr. Ayatrohaedi dari Jabatan Arkeologi, Fakulti Ilmu Pengetahuan Budaya, Universiti Indonesia bahawa bahasa Arab telah dijadikan salah satu sumber istilah baru. (Harian Pikiran Rakyat : 30 September 2002)

Kesan pembudayaan Islam di antaranya melalui bahasa Arab meliputi hampir keseluruhan nusantara, salah satunya di semenanjung Tanah Melayu sendiri ketika di bawah pengaruh dan kekuasaan sultan-sultan. Bahasa Melayu telah mengalami perubahan yang besar. Selain diperkaya dengan istilah dan perkataan Arab dan Parsi, bahasa Melayu turut dijadikan bahasa penghantar utama Islam di seluruh Kepulauan Melayu-Indonesia.

Kontrofersi Tafsir Bi al Ro’yi

Desember 30, 2008 Meninggalkan komentar

A.      PENDAHULUAN

Al-Qur’an adalah sumber ajaran islam. Kitab suci itu menempati posisi sentral, bukan saja dalam perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga merupakan inspirator, pemandu dan pemadu gerakan-gerakan umat islam sepanjang empat belas abad sejarah pergerakan umat ini.

Jika demikian halnya, maka pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an, melalui penafsiran-penafsirannya, mempunyai peranan yang sangat besar bagi maju mundurnya umat. Sekaligus, penafsiran-penafsiran itu dapat mencerminkan perkembangan serta corak pemikiran mereka.

Tidak diragukan lagi bahwa sejarah tafsir al-Qur’an berlangsung melalui berbagai tahap dan kurun waktu yang panjang sehingga mencapai bentuknya yang kita saksikan sekarang ini berupa tulisan bejilid-jilid banyaknya, baik yang tercetak maupun yang masih berupa tulisan tangan. Pertumbuhan tafsir al-Qur’an dimulai sejak dini, yaitu sejak zaman Rasulullah saw, prang pertama yang menguraikan Kitabullah al-Qur’an dan menjelaskan kepada ummatnya wahyu yang diturunkan Allah SWT, ke dalam hatinya. Pada masa itu tak seorangpun dari para shahabat beliau yang berani menafsirkan al-Qur’an karena beliau masih di tengah-tengah mereka. Beliau sendirilah yang memikul beban berat itu dan men unaikan kewajiban tersebut sebagaimana mestinya. Setelah beliau kembali ke keharibaan Allah , maka para shahabat beliau yang mendalami Kitabullah mengenai berbagai rahasianya yang tersirat dan yang telah menerima tuntunan serta petunjuk dari beliau, mau tidak mau mereka merasa terpanggil untuk tampil ambil bagian dalam menerangkan dan menjelaskan apa yang mereka ketahui dan mereka fahami dari al-Qur’an. Ahli tafsir di kalangan shahabat Nabi banyak jumlahnya, tetapi yang terkenal luas hanya 10 orang, empat orang Khulafa Rasyidin, yakni Abu Bakar As-Shidiq, ‘Umar bin Khattab, ‘Ustman bin ‘Affan dan ‘Ali bin Abi Tholib. Selain mereka terkenal juga nama-nama: ‘Abdullah bin Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, ‘Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari dan Abdullah bin Zubair. Diantara Khalifah yang empat tersebut, yang paling banyak disebut para ahli riwayat adalah ‘Ali bin Abi Thalib.

            Diantara sepuluh orang shahabat Nabi, yang paling tepat bergelar “ahli tafsir al-Qur’an” ialah Abdullah bin Abbas. Kedalaman ilmunya disaksikan sendiri oleh Rasulullah ketika beliau berdo’a baginya: ” Ya Allah, limpahkanlah ilmu agama yang mendalam kepadanya dan ajaklah ilmu ta’wil kepadanya. Ibnu Abbas terkenal juga dengan nama”Turjumanul-Qur’an). Akan tetapi banyak orang yang menambah-nambah riwayat mengenai ibnu Abbas. Diantara m,ereka ada pula yang meremehkannya ucapannya, sehingga Imam Syafi’i sendiri mengatakan: “Tafsir yang benar dari Ibnu Abbas hanya setara seratus hadits”.

            Penafsiran al-Qur’an dari shahabat  Nabi diterima dengan baik oleh para ‘Ulama dari kaum Tabi’in di berbagai daerah Islam. Pada akhirnya muncullah kelompok ahli tafsir di Makkah karena mereka itu shahabat-shahabat Ibnu Abbas, seperti: Mujahid, ‘Atha bin Abi Rayyah, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Thawus dan lain-lain.

            Kaum tabi’it-tabi’in (generasi ketiga kaum muslimin) meneruskan ilmu yang mereka terima dari kaum Tabi’in. Mereka mengumpulkan semua pendapat dan penafsiran al-Qur’an yang dikemukakan oleh para ‘Ulama terdahulu (kaum salaf dan tabi’in), kemudian mereka tuangkan kedalam kitab-kitab tafsir, seperti yuang dilakukan oleh Sufyan bin ‘Uyainah, Waki’ bin al-Jarrah, Syu’bah bin al-Hajjaj, danlain-lain. Mereka itu merupakan pembuka jalan bagi Ibnu Jarir at-Thabari yang metodenya diikuti oleh hampir semua ahli tafsir. Pada zaman berikutnya para ‘Ulama ahli tafsir mulai mempunyai arah yang dinamai “At-Tafsir Bil-Ma’tsur”, yaitu kelanjutan dari tafsir-tafsir masa sebelumnya yang diisnadkan kepada para shahabat Nabi, kaum Tabi’in dan kaum Tabi’t-tabi’in. ada pula tafsir yang dinamai “At-Tafsir Bir-Ra’yi”, di dalamnya terdapat berbagai metode penafsiran dan berbagai pemikiran yang saling bertabrakan, sehingga sebagioan dapat dipuji dan sebagian yang lain pantas dicela, tergantung pada jauh-dekatnya dengan hidayah al-Qur’an. Metode tafsir Bir-Ra’yi dan kontrofersinya inilah yang akan penulis  bahas pada makalah kali ini.

Berikut ini akan dikemukakan selayang pandang tentang perkembangan metode penafsiran bir-Ra’yi, keistimewaan, kelemahannya serta kontrofersi yang berkembang seputar tafsir bir-Ra’yi, menurut tinjauan kacamata kita yang hidup pada abad ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), serta era globalisasi dan informasi.

B.      TAFSIR BI AL-RA’YI

Tafsir bir-ra’yi ialah tafsir yang didalam menjelaskan maknanya seorang mufassir hanya berpegang pada pemahaman sendiri dan penyimpulan (istinbat) yang berdasarkan ra’yu semata. Tidak termasuk kategori ini pemahaman (terhadap al Qur’an) yang sesuai dengan ruh syari’at dan didasarkan pada nash-nashnya.  Ro’yu semata yang tidak didasarkan dan disertai bukti akan membawa penyimpangan terhadap kitabullah. Dan kebanyakan orang yang menafsirkan ayat dengan cara ini adalah ahli bid’ah, yang menganut paham bathil. Mereka menggunakan al Qur’an untuk ditakwilkan menurut pendapat pribadi yang tidak mempunyai pijakan berupa pendapat atau penafsiran ulama salaf, sahabat dan tabi’in dalam manafsirkan ayat. Golongan tersebut telah menulis tafsir menurut pokok-pokok madzhab mereka, seperti tafsir karya Abdurrahman bin Kaisan al-Asam,  al-Juba’i,  Abdul Jabbar, ar-Rummani, Zamakhsari dan lain sebagainya.

Diantara mereka ada yang menulis tafsirnya dengan ungkapan yang indah dan menyusupkan madzhabnya kedalam untaian kalimat yang dapat memperdaya orang sebagaimana yang dilakukan penulis Tafsir al-Kassaaf dalam menyisipkan paham ke-mu’tazilah-annya. Diantara mereka terdapat juga ahli kalam yang mentakwilkan ayat-ayat sifat dengan selera madzabnya. Golongan ini lebih dekat ke madzhab Ahlus Sunnah daripada ke Mu’tazilah. Tetapi jika mereka membawakan penafsiran yang bertentangan dengan madzhab sahabat dan tabi’in, maka sebenarnya mereka tidak ada bedanya dengan mu’tazilah dan ahli bid’ah lainnya.

C.      METODE AL-RA’YI (PENALARAN), PENDEKATAN DAN CORAKNYA

Banyak cara pendekatan dan corak tafsir yang mengandalkan nalar, bila bertitik tolak pada pandangan Al-Farmawi yang membagi metode tafsir menjadi empat macam, yaitu Tahlily, Ijmaliy, Muqaran dan Maudlu’i.

1.      Metode Tahlily

Yang populer dari keempat metode yang disebutkan itu adalah metode tahlily, dan metode maudlu’iy. Metode tahlily atau yang dinamai Baqir Al-Sadr sebagai metode tajzi’y, adalah satu metode tafsir yang “mufassirnya berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai segi dengan memperhatikan runtutan ayat-ayat Al-Qur’an sebagaimana tercantum di dalam mushaf”.

Pemikir Aljazair kontemporer, Malik bin Nabi menilai bahwa upaya para ulama menafsirkan Al-Qur’an dengan metode tahlily itu, tidak lain kecuali dalam rangka upaya mereka meletakkan dasar-dasar rasional bagi pemahaman akan kemukjizatan Al-Qur’an.

Terlepas benar tidaknya pendapat Malik bin Nabi di atas, namun yang jelas, kemukjizatan Al-Qur’an tidak ditujukan kecuali kepada mereka yang tidak percaya. Ia tidak ditujukan kepada ummat Islam. Hal ini dapat dibuktikan dengan memperlihatkan rumusan definisi mukjizat dimana terkandung di dalamnya unsur tahaddiy (tandingan), sedangkan orang muslim tidak perlu ditantang karena telah menerima. Bukti kedua dapat dilihat dari teks ayat-ayat yang berbicara tentang keluarbiasaan Al-Qur’an yang dimulai dengan kalimat “Inkuntum fi raib” atau “Inkuntum shadiqin”.

Kalau tujuan penggunaan metode tahliliy seperti yang diungkapkan Malik diatas, maka terlepas dari keberhasilan atau kegagalan mereka, yang jelas untuk masyarakat muslim dewasa ini, paling tidak persoalan tersebut bukan lagi merupakan persoalan yang mendesak. Karenanya, untuk masa kini, pengembangan metode penafsiran menjadi amat dibutuhkan, apalagi jika kita sependapat dengan Baqir Al-Sadr – Ulama Syi’ah Iraq – yang menilai bahwa metode tersebut telah menghasilkan pendangan parsial serta kontradiktif dalam kehidupan umat Islam. Dapat ditambahkan bahwa para penafsir yang menggunakan metode ini tidak jarang hanya berusaha menemukan dalil atau lebih tepat dalih pembenaran pendapatnya dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, terasa sekali bahwa metode Tafsir Bi ar-Ra’yi dengan cara tahliliy ini tidak mampu menjawab tuntas persoalan-persoalan yang dihadapi sekaligus tidak mampu memberi pagar-pagar metodologis yang dapat mengurangi subjektifitas mufassirnya.

2.      Metode Maudlu’i

“Istantiq Al-Qur’an” (ajaklah Al-Qur’an berbicara” atau “biarkan ia menguraikan maksudnya”) – konon itu pesan dari Ali bin Abi Thalib. Pesan ini antara lain mengharuskan penafsir untuk merujuk kepada Al-Qur’an dalam rangka memahami kandungannya. Dari sini lahir metode mawdlu’iy dimana mufassirnya berupaya menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai surah dan yang berkaitan dengan persoalan atau topik yang ditetapkan sebelumnya. Kemudian, penafsir membahas dan menganalisis kandungan ayat-ayat tersebut sehingga menjadi satu kesatuan.

D.     KONTROFERSI TAFSIR BI AL-RA’YI

Menafsirkan al-Qur’an dengan ro’yu dan ijtihad semata tanpa ada dasar yang sahih adalah haram hukumnya. Tidak bileh dilakukan. Allah SWT berfirman dalam surat al-Isro’ ayat 36:

Artinya: “ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya”  al-Isra’ ayat 36

Rasulullah bersabda dalam hadits:

Artinya: “ Barang siapa yang berkata tentang al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri atau menurut apa yang tidak diketahuinya,  hendaklah ia menempati tempat duduknya di dalam api neraka” HR. Tirmizi, Nasa’i dan Abu Dawud.

Oleh karena itu golongan salaf keberatan, enggan untuk menafsirkan al-Qur’an dengan sesuatu yang mereka tidak ketahui. Dari Yahya bin Sa’id  diriwayatkan, dari Sa’id bin al- Musayyab, apabila ia ditanya tentang sesuatu ayat al-Qur’an maka ia menjawab:

Artinya: “ Kami tidak akan mengatakan sesuatu pun tentang al-qur’an”. Hadits Malik dalam Kitab al-Muwatto’.

Abu ‘Ubaid al-Qossam meriwayatkan, Abu Bakar as-Siddiq pernah ditanya tentang maksud kata al-abb dalam firman Allah dalam surat ‘Abasa (80): 31, …. Kemudian ia menjawab, “ langit manakah yang akan menaungiku dan bumi manakah yang akan menyanggaku jika aku mengatakan tentang kalamullah sesuatu yang tidak aku ketahui?”.

At-Tabari menjelaskan:

Semua riwayat di atas menjadi bukti bagi kebenaran pendapat kami, bahwa menafsirkan ayat-ayat Qur’an yang tidak diketahui maksudnya kecuali dengan penjelasan Rasullullah secara tegas atau dengan dalil yang didirikannya untuk itu, tidak seorangpun boleh atau diperbolehkan menefsirkannya menurut pendapatnya sendiri. Bahkan bila melakukannya, sekalipun tepat dan benar, ia tetap dipandang telah melakukan kesalahan karena ia berkata (tentang al-Qur’an) dengan pendapat sendiri. Hal ini mengingat, ketepatan dan kebenaran pendapatnya itu tidak meyakinkan, melainkan hanya bersifat dugaan dan perkiraan semata. Dan orang yang mengatakan sesuatu tentang agama Allah menurut dugaan semata berarti ia telah mengatakan terhadap Allah sesuatu yang tidak ia ketahui. Padahal dalam Kitab-Nya Allah telah mengharamkan perbuatan demikian atas hamba-Nya:

Artinya: “ katakanlah: “ tuhanku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa dan melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar; (mengharamkan) kamu mempersekutukan dengan Allah sesuatu yang tidak Ia turunkan hujah mengenainya dan (mengharamkan) kamu mengatakan terhadap Allah sesuatu yang tidak kamu ketahui.” (al-A’raf (17):33.

Riwayat-riwayat ini dan yang serupa dengannya yang berasal dari tokoh-tokoh salaf diartikan sebagai keengganan mereka untuk berbicara tentang tafsir dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui. Tetapi jika sampai pada hal-hal yang mereka ketahui, baik berkenaan dengan bahasa maupun syara’, mereka melakukannya tanpa merasa bersalah. Karena itu cukup banyak diriwayatkan dari mereka dan yang lain sejumlah pendapat tentang tafsir. Hal demikian tidak dipandang kontradiktif karena mereka berbicara tentang sesuatu yang sudah mereka ketahui dan berdiam diri dari hal-hal yang tidak mereka ketahui. Itulah yang wajib bagi setiap manusia. Akan tetapi jika tafsir bil-ma’tsur bil-ma’tsur yang shahih ditinggalkan dan beralih ke pendapat yang berdasarkan ra’yu semata, maka hal ini merupakan perbuatan munkar.  Berkenaan dengan ini Ibn Taimiyyah menegaskan, “Tegasnya, siapapun yang beralih dari madzhab sahabat dan dan tabi’in serta penafsiran mereka ke sesuatu hal yang menyalahinya, ia telah melakukan perbuatan salah dan bahkan bid’ah, sebab merekalah yang paling mengetahui tafsir Qur’an dan makna-maknanya sebagaimana mereka pulalah yang lebih mengerti akan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah.”

At-Tabari lebih lanjut mengatakan:

Mufassir yang paling berhak atas kebenaran dalam menafsirkan Qur’an – yang penafsirannya dapat diketahui oleh manusia – adalah mufassir yang paling tegas hujjahnya mengenai apa yang ditafsirkan dan ditakwilkannya, karena penafsirannya disandarkan kepada Rasulullah bukan kepada yang lain. Yaitu berdasarkan kabar-kabar yang dipastikan berasal dari Rasulullah, baik melalui penukilan paripurna (mustafid) bila ada, penukilan oleh orang-orang yang teguh lagi terpercaya bila tidak terdapat penukilan paripurna, ataupun dengan dalil yang menjamin kesahihan penukilan tersebut. Selanjutnya, adalah mufassir yang paling sahih bukti dan argumentasinya, dalam hal yang diterjemahkan dan dijelaskannya, yaitu mufassir yang menafsirkan Qur’an menurut kaidah-kaidah bahasa, baik yang bertendensi kepada syair-syair arab baku maupun dengan memperhatikan tutur kata dan bahasa mereka yang sempurna dan terkenal. Ini berlaku bagi semua penta’wil dan mufassir selama penta’wilan dan penafsirannya tidak keluar dari pendapat-pendapat salaf; sahabat dan para imam, serta tidak menyimpang dari penafsiran golongan khalaf, tabi’in dan ulama ummat. 

Mengenai tafsir bir-Ra’yi (menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan pendapat akal), para ulama berbeda pendapat, ada yang memperbolehkannya ada pula yang mengharamkannya. Sebenarnya perbedaan itu karena penafsir berdasarkan pendapat (Ra’yu) memastikan “yang dimaksud Allah begini dan begitu” tanpa disertai dengan dalil dan hujjah atau karena orang berusaha menafsirkan Al-Qur’an padahal ia tidak menguasai kaidah bahasa Arab dan pokok-pokok hukum agama; atau karena dorongan hawa nafsu yang hendak memutarbalikkan makna ayat-ayat Al-Qur’an. Lain halnya kalau si penafsir mempunyai persyaratan cukup yang diperlukan, sehingga tidaklah ada salahnya kalau ia berusaha menafsirkan Al-Qur’an atas dasar pendapat dan akal. Barangkali tidak terlalu jauh kalau kami katakan: Bahwa Al-Qur’an sendiri menganjurkan orang berijtihad memikirkan ayat-ayat-Nya dan mendalami pengetahuan tentang ajaran-ajaran-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Surat Shaad ayat 29:

Artinya: “ Al-Qur’an adalah kitab yang telah Kami turunkan kepadamu (hai Muhammad) dengan berkah, agar mereka memikirkan ayat-ayat-Nya dan agar orang-orang yang berakal dapat memperoleh pelajaran. (Shaad, 29).

As-Sayuthi mengutip pendapat Zarkasyi dalam al-Burhan mengenai syarat-syarat pokok yang harus dimiliki oleh seseorang agar ia boleh menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan Ra’yu (pendapat atau akal). Syarat-syarat pokok itu berkisar di sekitar empat soal:

1.      Berpegang pada hadits-hadits yang berasal dari Rasulullah saw dengan ketentuan ia harus waspada terhadap riwayat yang dha’if (lemah) dan maudhu’ (palsu).

2.      Berpegang pada ucapan Sahabat Nabi, karena apa yang mereka katakan, menurut peristilahan hadits hukumny mutlak marfu’ (shahih atu hasan), khususnya yang berkaitan dengan asbabun nuzul dan hal-hal yang tidak dicampuri pendapat (ar-Ra’yu).

3.      Mutlak harus berpegang pada kaidah bahasa Arab, dan harus tetap berhati-hati jangan sampai menafsirkan ayat-ayat menyimpang dari makna lafadz yang semestinya, sebagaimana banyak terdapat di dalam pembicaraan orang Arab.

4.      Berpegang teguh pada maksud ayat, dan harus terjamin kebenarannya menurut aturan dan hukum syara’. Itulah yang dimaksud Rasulullah dalam doa beliau bagi Ibnu “Abbas, yaitu: “Ya Allah, limpahkanlah kedalam ilmu agama kepadanya, dan ajarkanlah ta’wil kepada-Nya”.

Tafsir yang paling terkenal memenuhi syarat-syarat tersebut diatas ialah tafsir ar-Razi, yang berjudul Mafatihul-Ghaib, tafsir Baidhawi: Anwaarut-Tanzil Wa Asraarut-Ta’wiil, tafsir Abus-Sa’ud: Irsyadul-‘Aqlis-Salim Ilaa Ma-Mazaayal-Qur’anil-Karim, tafsir an-Nasafi: Madaarikut-Tanzil Wa Haqaa’iqut-Ta’wil dan tafsir Khazin. Lubaabut-Ta’wil Fi Ma’aanit-Tanziil.

 

E.      PENUTUP

Mengenai tafsir yang didasarkan pada pendapat dan akal (tafsir bir-Ro’yi), sekalipun syarat-syarat yang diperlukan untuk dapat dinilai baik dan teruji, tidak dapat dibenarkan jika ia bertentangan dengan tafsir bil-Ma’tsur yang kita ketahui dengan pasti berdasarkan pada nash-nash hadits shahih. Sebab ar-Ra’yu adalah ijtihad.  Sedang ijtihad tidak boleh disejajarkan dengan nash-nash hadits. Lain halnya kalau tafsir bir-Ra’yi tidak bertentangan dengan tafsir bil-Ma’tsur, dalam hal ini maka keduanya saling mendukung dan saling memperkuat. Itulah yang kita temukan di dalam kitab-kitab tafsir. Misalnya, berbagai pendapat mengenai penafsiran ayat ke 32 Surah Fathir yang Artinya: “…Diantara mereka ada yang dzalim terhadap dirinya sendiri, ada yang muqtashid (sedang-sedang) dan ada pula yang lebih dulu (sabiq) berbuat kebajikan seizin Allah” Surah Fatir: 32.

Ada yang berpendapat bahwa “sabiq” itu orang yang ikhlas, “muqtashid” berarti orang yang berbuat riya’, sedangkan “dzalim” adalah orang yang tidak menghargai nikmat Allah bahkan mengingkarinya. Wallalu a’lam bi as-Showab.

 

-oOo-

KH. M. Hasyim Asy’ari

Desember 27, 2008 Meninggalkan komentar

A.      Biografi Singkat KH. Hasyim Asy’ari (1871-1947)

Sosok ulama yang satu ini sudah begitu akrab di telinga umat Islam Indonesia khususnya, karena beliau merupakan pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. Akan tetapi ketokohan dan keharuman nama beliau bukan hanya karena aktivitas dakwah beliau sebagai pendiri NU, melainkan juga karena beliau termasuk pemikir dan pembaharu Pendidikan Islam. Dilahirkan dari keluarga elit kiai di Jombang, K.H.M.Hasyim Asy’ari pernah belajar di berbagai pesantren di Jawa sebelum melanjutkan pendidikan ke tanah Hijaz. Kemudian kembali ke Indonesia dan mendirikan pesantren Tebuireng Jombang yang terkenal dengan ilmu haditsnya. Kedalaman ilmu, dan pemikirannya dalam pendidikan sangat brilian, sampai-sampai para kiai di Jawa memberinya gelar “Hadratus Syekh” yang berarti “Tuan Guru Besar”.

Pendiri pesantren Tebuireng dan perintis Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, ini dikenal sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren. Selain mengajarkan agama dalam pesantren, ia juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.
Karya dan jasa Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 tidak lepas dari nenek moyangnya yang secara turun-temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Kiai Hasyim Asy’ari merupakan keturunan Raja Brawijaya VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi Raja Pajang (keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir).

Kakeknya, Kiai Ustman terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, yang santrinya berasal dari seluruh Jawa, pada akhir abad 19. Dan ayah kakeknya, Kiai Sihah, adalah pendiri Pesantren Tambak beras di Jombang.

Semenjak kecil hingga berusia empat belas tahun, putra ketiga dari 11 bersaudara ini mendapat pendidikan langsung dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman. Hasratnya yang besar untuk menuntut ilmu mendorongnya belajar lebih giat dan rajin. Hasilnya, ia diberi kesempatan oleh ayahnya untuk membantu mengajar di pesantren karena kepandaian yang dimilikinya. Tak puas dengan ilmu yang diterimanya, semenjak usia 15 tahun, ia berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain. Mulai menjadi santri di Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Trenggilis (Semarang), dan Pesantren Siwalan, Panji (Sidoarjo). Di pesantren Siwalan ia belajar pada Kyai Jakub yang kemudian mengambilnya sebagai menantu.

          Pada tahun 1892, Kiai Hasyim Asy’ari menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu di Mekah. Di sana ia berguru pada Syeh Ahmad Khatib dan Syekh Mahfudh at-Tarmisi, gurunya di bidang hadis.

    Dalam perjalanan pulang ke tanah air, ia singgah di Johor, Malaysia dan mengajar di sana. Pulang ke Indonesia tahun 1899, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren di Tebuireng yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Sejak tahun 1900, Kiai Hasyim Asy’ari memosisikan Pesantren Tebuireng, menjadi pusat pembaruan bagi pengajaran Islam tradisional.

Dalam pesantren itu bukan hanya ilmu agama yang diajarkan, tetapi juga pengetahuan umum. Para santri belajar membaca huruf latin, menulis dan membaca buku-buku yang berisi pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.

Cara yang dilakukannya itu mendapat reaksi masyarakat sebab dianggap bidat. Ia dikecam, tetapi tidak mundur dari pendiriannya. Baginya, mengajarkan agama berarti memperbaiki manusia. Mendidik para santri dan menyiapkan mereka untuk terjun ke masyarakat, adalah salah satu tujuan utama perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari.
Meski mendapat kecaman, pesantren Tebuireng menjadi masyur ketika para santri angkatan pertamanya berhasil mengembangkan pesantren di berbagai daerah dan juga menjadi besar.

Tanggal 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh Islam tradisional, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti kebangkitan ulama. Organisasi ini pun berkembang dan banyak anggotanya. Pengaruh Kiai Hasyim Asy’ari pun semakin besar dengan mendirikan organisasi NU, bersama teman-temannya. Itu dibuktikan dengan dukungan dari ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Bahkan, para ulama di berbagai daerah sangat menyegani kewibawaan Kiai Hasyim. Kini, NU pun berkembang makin pesat. Organisasi ini telah menjadi penyalur bagi pengembangan Islam ke desa-desa maupun perkotaan di Jawa.

Meski sudah menjadi tokoh penting dalam NU, ia tetap bersikap toleran terhadap aliran lain. Yang paling dibencinya ialah perpecahan di kalangan umat Islam. Pemerintah Belanda bersedia mengangkatnya menjadi pegawai negeri dengan gaji yang cukup besar asalkan mau bekerja sama, tetapi ditolaknya.

Dengan alasan yang tidak diketahui, pada masa awal pendudukan Jepang, Hasyim Asy’ari ditangkap. Berkat bantuan anaknya, K.H. Wahid Hasyim, beberapa bulan kemudian ia dibebaskan dan sesudah itu diangkat menjadi Kepala Urusan Agama. Jabatan itu diterimanya karena terpaksa, tetapi ia tetap mengasuh pesantrennya di Tebuireng.

Sesudah Indonesia merdeka, melalui pidato-pidatonya Kiai Hasyim Asy’ari membakar semangat para pemuda supaya mereka berani berkorban untuk mempertahankan kemerdekaan. Ia meninggal dunia pada tanggal 25 Juli 1947 karena pendarahan otak dan dimakamkan di Tebuireng

 

B.      Pemikiran Tokoh Untuk Pengembangan Intelektual Pesantren

Hasyim Asy’ari adalah seorang kiai yang pemikiran dan sepak terjangnya berpengaruh dari Aceh sampai Maluku, bahkan sampai ke Melayu. Santri-santri ada yang dari Ambon, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera dan Aceh, bahkan ada beberapa orang dari Kuala Lumpur. Beliau terkenal orang yang alim dan adil, selalu mencari kebenaran, baik kebenaran dunia maupun kebenaran akhirat. Semasa hidupnya beliau diberi kedudukan sebagai Rais Akbar NU, suatu jabatan yang hanya diberikan kepada Hasyim Asy’ari satu-satunya. Bagi ulama lain yang menjabat jabatan tersebut, tidak lagi menyandang sebutan Rais Akbar melainkan Rais Am. Hal ini karena ulama lain yang menggantikannya merasa lebih rendah dibandingkan Hasyim Asy’ari.

 Pemikiran Hasyim Asy’ari dalam bidang Pendidikan lebih banyak ditinjau dari segi etika dalam pendidikan. Etika dalam pendidikan banyak diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin pada Bagian adab kesopanan pelajar dan pengajar. Dalam dunia pendidikan sekarang, banyak disinggung dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip pelaksanaan pendidikan. dan para ahli psikologi pendidikan, menyinggungnya dalam kepribadian yang efektif bagi pelajar dan mengajar.

Di antara adab pelajar menurut Al-Ghazali adalah: mendahulukan kesucian batin dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela, jangan menyombongkan diri dan jangan menentang guru, memulai belajar dalam bidang ilmu yang lebih penting, dan menghiasi diri dengan sifat-sifat utama. Sedangkan di antara adab seorang pengajar adalah: memulai pelajaran dengan basmalah, mempunyai rasa belas-kasihan kepada murid-murid dan memperlakukannya sebagai anak sendiri, mengikuti jejak Rasul, mengajar bukan untuk mencari upah tetapi semata-mata karena ibadah pada Allah, mengamalkan sepanjang ilmunya, jangan perkataannya membohongi perbuatannya.

Pemikiran Hasyim Asy’ari sendiri dalam hal ini boleh jadi diwarnai dengan keahliannya dalam bidang hadits, dan pemikirannya dalam bidang tasawuf dan fiqh. Serta didorong pula oleh situasi pendidikan yang ada pada saat itu, yang mulai mengalami perubahan dan perkembangan yang pesat, dari kebiasaan lama (tradisonal) yang sudah mapan ke dalam bentuk baru (modern) akibat pengaruh sistem pendidikan Barat (Imperialis Belanda) yang diterapkan di Indonesia.

      Memperkenalkan sistem Musyawarah

Masa kebangkitan pesantren kembali, dimulai sejak 1900, yakni sejak pesantren Tebuireng menjadi pusat pembaruan pengajaran Islam tradisional. Sebelumnya pendidikan Islam sempat mengalami kemunduran kualitas yang disebabkan oleh kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Belanda yang mengawaasi dengan ketat dan membuat peraturan yang merugikan pesantren. Bahkan penjajah Belanda melarang masuknya kitab-kitab agama tertentu dari luar negeri yang umumnya dibawa oleh para jamaah haji. Selain itu, Ordonansi guru yang dikeluarkan oleh pihak Belanda pada tahun 1905, bahwa setiap guru agama yang hendak mengajar harus mendapat izin dari penjajah Belanda. Akibat itulah, banyak pesantren yang mengalami penurunan kualitas.

Kiai Hasyim membawa perubahan baru sepulangnya dari Mekkah dengan metode pengajaran yang cukup sistematis. Misalnya Kiai Hasyim Asy’ari mengembangkan sistem musyawarah, seperti diskusi kelas yang menghidupkan suasana kreatif para santri. Selain itu, pesantren Tebu Ireng bukan hanya mengajarkan ilmu agama  tetapi juga pengetahuan umum. Para santri belajar membaca huruf latin, menulis dan membaca buku-buku yang berisi pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato. Cara yang dilakukannya itu mendapat reaksi masyarakat sebab dianggap bid’ah. Apalagi, dalam hal sistem, pesantren Tebuireng memperkenalkan sistem madrasah. Sistem madrasah seperti yang sekarang dikenal, yaitu dengan sistem menggunakan kelas. Ia dikecam, tetapi tidak mundur dari pendiriannya. Baginya, mengajarkan agama berarti memperbaiki manusia. Mendidik para santri dan menyiapkan mereka untuk terjun ke masyarakat, adalah salah satu tujuan utama perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari.

Meski mendapat kecaman, pesantren Tebuireng menjadi masyhur ketika para santri angkatan pertamanya berhasil mengembangkan pesantren di berbagai daerah dan juga menjadi besar.

 

 

C.      Pemikiran Tokoh Untuk Peningkatan Peran Pesantren Sebagai Agen of Change

Hasyim Asy’ari yang dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren, serta banyak menuntut ilmu dan berkecimpung secara langsung di dalamnya, di lingkungan pendidikan agama Islam khususnya. Dan semua yang dialami dan dirasakan beliau selama itu menjadi pengalaman dan mempengaruhi pola pikir dan pandangannya dalam masalah-masalah pendidikan.

Salah satu karya monumental Hasyim Asy’ari yang berbicara tentang pendidikan adalah kitabnya yang berjudul Adab al Alim wa al Muta’allim fima Yahtaj ilah al Muta’alim fi Ahuwal Ta’allum wama Yataqaff al Mu’allim fi Maqamat Ta’limih, namun dalam penulisan ini kami tidak menemukakan kitab aslinya dan akhirnya banyak mengambil dari tulisan Samsul Nizar dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, dan buku-buku yang lain sebagai penunjang.
Pembahasan terhadap masalah pendidikan lebih beliau tekankan pada masalah etika dalam pendidikan, meski tidak menafikan beberapa aspek pendidikan lainnya. Di antara pemikiran beliau dalam masalah pendidikan adalah:


a. Signifikansi Pendidikan


         Beliau menyebutkan bahwa tujuan utama ilmu pengetahan adalah mengamalkan. Hal itu dimaksudkan agar ilmu yang dimiliki menghasilkan manfaat sebagai bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu, yaitu : pertama, bagi murid hendaknya berniat suci dalam menuntut ilmu, jangan sekali-kali berniat untuk hal-hal duniawi dan jangan melecehkannya atau menyepelikannya. Kedua, bagi guru dalam mengajarkan ilmu hendaknya meluruskan niatnya terlebih dahulu, tidak mengharapkan materi semata. Agaknya pemikiran beliau tentang hal tersebut di atas, dipengaruhi oleh pandangannya akan masalah sufisme (tasawuf), yaitu salah satu persyaratan bagi siapa saja yang mengikuti jalan sufi menurut beliau adalah “niat yang baik dan lurus”.

Belajar menurut Hasyim Asy’ari merupakan ibadah untuk mencari ridha Allah, yang mengantarkan manusia untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Karenanya belajar harus diniatkan untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Islam, bukan hanya untuk sekedar menghilangkan kebodohan.

Pendidikan hendaknya mampu menghantarkan umat manusia menuju kemaslahatan, menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Pendidikan hendaknya mampu mengembangkan serta melestarikan nilai-nilai kebajikan dan norma-norma Islam kepada generasi penerus umat, dan penerus bangsa. Umat Islam harus maju dan jangan mau dibodohi oleh orang lain, umat Islam harus berjalan sesuai dengan nilai dan norma-norma Islam.


b. Tugas dan Tanggung Jawab Murid


1) Etika yang harus diperhatikan dalam belajar


– Membersihkan hati dari berbagai gangguan keimanan dan keduniaan
– Membersihkan niat, tidak menunda-nunda kesempatan belajar, bersabar dan qanaah
– Pandai mengatur waktu
– Menyederhanakan makan dan minum
– Berhati-hati (wara’)
– Menghindari kemalasan
– Menyedikitkan waktu tidur selagi tidak merusak kesehatan
– Meninggalkan hal-hal yang kurang berfaedah.


               Dalam hal ini terlihat, bahwa Hasyim Asy’ari lebih menekankan kepada pendidikan ruhani atau pendidikan jiwa, meski demikian pendidikan jasmani tetap diperhatikan, khususnya bagaimana mengatur makan, minum, tidur dan sebagainya. Makan dan minum tidak perlu terlalu banyak dan sederhana, seperti anjuran Rasulullah Muhammad saw. Serta jangan banyak tidur, dan jangan suka bermalas-malasan. Banyakkan waktu untuk belajar dan menuntut ilmu pengetahuan, isi hari-hari dan waktu yang ada dengan hal-hal yang bermanfaat.

2) Etika seorang murid terhadap guru
             – Hendaknya selalu memperhatikan dan mendengarkan guru
             – Memilih guru yang wara’
             – Mengikuti jejak guru
             – Memuliakan dan memperhatikan hak guru
             – Bersabar terdapat kekerasan guru
             – Berkunjung pada guru pada tempatnya dan minta izin lebih dulu
             – Duduk dengan rapi bila berhadapan dengan guru
             – Berbicara dengan sopan dan lembut dengan guru
             – Dengarkan segala fatwa guru dan jangan menyela pembicaraannya
             – Gunakan anggota kanan bila menyerahkan sesuatu pada guru.

Etika seperti tersebut di atas, masih banyak dijumpai pada pendidikan pesantren sekarang ini, akan tetapi etika seperti itu sangat langka di tengah budaya kosmopolit. Di tengah-tengah pergaulan sekarang, guru dipandang sebagai teman biasa oleh murid-murid, dan tidak malu-malu mereka berbicara lebih nyaring dari gurunya. Terlihat pula pemikiran yang ditawarkan oleh Hasyim Asy’ari lebih maju. Hal ini, misalnya terlihat dalam memilih guru hendaknya yang profesional, memperhatikan hak-hak guru, dan sebagainya.

3) Etika murid terhadap pelajaran
    – Memperhatikan ilmu yang bersifat fardhu ‘ain
    – Berhati-hati dalam menanggapi ikhtilaf para ulama
    – Mendiskusikan dan menyetorkan hasil belajar pada orang yang dipercaya
    – Senantiasa menganalisa dan menyimak ilmu
    – Bila terdapat hal-hal yang belum dipahami hendaknya ditanyakan
    – Pancangkan cita-cita yang tinggi
    – Kemanapun pergi dan dimanapun berada jangan lupa membawa catatan
    – Pelajari pelajaran yang telah dipelajari dengan continue (istiqamah)
    – Tanamkan rasa antusias dalam belajar.

Penjelasan tersebut di atas seakan memperlihatkan akan sistem pendidikan di pesantren yang selama ini terlihat kolot, hanya terjadi komunikasi satu arah, guru satu-satunya sumber pengajaran, dan murid hanya sebagai obyek yang hanya berhak duduk, dengar, catat dan hafal (DDCH) apa yang dikatakan guru. Namun pemikiran yang ditawarkan oleh Hasyim Asy’ari lebih terbuka, inovatif dan progresif. Beliau memberikan kesempatan para santri untuk mengambil dan mengikuti pendapat para ulama, tapi harus hati-hati dalam menanggapi ikhtilaf para ulama.

Hal tersebut senada dengan pemikiran beliau tentang masalah fiqh, beliau meminta umat Islam untuk berhati-hati pada mereka yang mengklaim mampu menjalankan ijtihad, yaitu kaum modernis, yang mengemukakan pendapat mereka tanpa memiliki persayaratan yang cukup untuk berijtihad itu hanya berdasarkan pertimbangan pikiran semata. Beliau percaya taqlid itu diperbolehkan bagi sebagian umat Islam, dan tidak boleh hanya ditujukan pada mereka yang mampu melakukan ijtihad.


c. Tugas Dan Tanggung Jawab Guru


1) Etika seorang guru
– Senantiasa mendekatkan diri pada Allah
– Takut pada Allah, tawadhu’, zuhud dan khusu’
– Bersikap tenang dan senantiasa berhati-hati
– Mengadukan segala persoalan pada Allah
– Tidak menggunakan ilmunya untuk meraih dunia
– Tidak selalu memanjakan anak
– Menghindari tempat-tempat yang kotor dan maksiat
– Mengamalkan sunnah Nabi
– Mengistiqamahkan membaca al- Qur’an
– Bersikap ramah, ceria dan suka menabur salam
– Menumbuhkan semangat untuk menambah ilmu
– Membiasakan diri menulis, mengarang dan meringkas.

Catatan yang menarik dan perlu dikedepankan dalam membahas pemikiran dan pandangan yang ditawarkan oleh Hasyim Asy’ari adalah etika atau statement yang terakhir, dimana guru harus membiasakan diri menulis, mengarang dan meringkas, yang pada masanya jarang sekali dijumpai. Dan hal ini beliau buktikan dengan banyaknya kitab hasil karangan atau tulisan beliau.

Betapa majunya pemikiran Hasyim Asy’ari dibanding tokoh-tokoh lain pada zamannya, bahkan beberapa tahun sesudahnya. Dan pemikiran ini ditumbuh serta diangkat kembali oleh pemikir pendidik zaman sekarang ini, yaitu Harun Nasution, yang mengatakan hendaknya para dosen-dosen di Perguruan Tinggi Islam khususnya agar membiasakan diri untuk menulis.


2) Etika guru dalam mengajar
– Jangan mengajarkan hal-hal yang syubhat
– Mensucikan diri, berpakaian sopan dan memakai wewangian
– Berniat beribadah ketika mengajar, dan memulainya dengan do’a
– Biasakan membaca untuk menambah ilmu
– Menjauhkan diri dari bersenda gurau dan banyak tertawa
– Jangan sekali-kali mengajar dalam keadaan lapar, mengantuk atau marah
– Usahakan tampilan ramah, lemah lembut, dan tidak sombong
– Mendahulukan materi-materi yang penting dan sesuai dengan profesional yang dimiliki
– Menasihati dan menegur dengan baik jika anak didik bandel
– Bersikap terbuka terhadap berbagai persoalan yang ditemukan
– Memberikan kesempatan pada anak didik yang datangnya terlambat dan ulangilah   penjelasannya agar tahu apa yang dimaksudkan
– Beri anak kesempatan bertanya terhadap hal-hal yang belum dipahaminya.

Terlihat bahwa apa yang ditawarkan Hasyim Asy’ari lebih bersifat pragmatis, artinya, apa yang ditawarkan beliau berangkat dari praktik yang selama ini dialaminya. Inilah yang memberikan nilai tambah dalam konsep yang dikemukakan oleh Bapak santri ini.
Terlihat juga betapa beliau sangat memperhatikan sifat dan sikap serta penampilan seorang guru. Berpenampilan yang terpuji, bukan saja dengan keramahantamahan, tetapi juga dengan berpakaian yang rapi dan memakai minyak wangi.

Agaknya pemikiran Hasyim Asy’ari juga sangat maju dibandingkan zamannya, ia menawarkan agar guru bersikap terbuka, dan memandang murid sebagai subyek pengajaran bukan hanya sebagai obyek, dengan memberi kesempatan kepada murid-murid bertanya dan menyampaikan berbagai persoalan di hadapan guru.


3) Etika guru bersama murid
– Berniat mendidik dan menyebarkan ilmu
– Menghindari ketidak ikhlasan
– Mempergunakan metode yang mudah dipahami anak
– Memperhatikan kemampuan anak didik
– Tidak memunculkan salah satu peserta didik dan menafikan yang lain
– Bersikap terbuka, lapang dada, arif dan tawadhu’
– Membantu memecahkan masalah-masalah anak didik
– Bila ada anak yang berhalangan hendaknya mencari ihwalnya.

Kalau sebelumnya terlihat warna tasawufnya, khususnya ketika membahas tentang tugas dan tanggung jawab seorang pendidik. Namun kali ini gagasan-gagasan yang dilontarkan beliau berkaitan dengan etika guru bersama murid menunjukkan keprofesionalnya dalam pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari rangkuman gagasan yang dilontarkannya tentang kompetensi seorang pendidik, yang utamanya kompetensi profesional.

Hasyim Asy’ari sangat menganjurkan agar seorang pendidik atau guru perlu memiliki kemampuan dalam mengembangkan metode dan memberi motivasi serta latihan-latihan yang bersifat membantu murid-muridnya memahami pelajaran. Selain itu, guru juga harus memahami murid-muridnya secara psikologi, mampu memahami muridnya secara individual dan memecahkan persoalan yang dihadapi murid, mengarahkan murid pada minat yang lebih dicendrungi, serta guru harus bersikap arif.

Jelas pada saat Hasyim Asy’ari melontarkan pemikiran ini, ilmu pendidikan maupun ilmu psikologi pendidikan yang sekarang beredar dan dikaji secara luas belum tersebar, apalagi di kalangan pesantren. Sehingga ke-genuin-an pemikiran beliau patut untuk dikembangkan selaras dengan kemajuan dunia pendidikan.


d. Etika Terhadap Buku, Alat Pelajaran dan Hal-hal Lain Yang Berkaitan Dengannya

 Satu hal yang menarik dan terlihat beda dengan materi-materi yang biasa disampaikan dalam ilmu pendidikan umumnya, adalah etika terhadap buku dan alat-alat pendidikan. Kalaupun ada etika untuk itu, namun biasanya hanya bersifat kasuistik dan seringkali tidak tertulis, dan seringkali juga hanya dianggap sebagai aturan yang umum berlaku dan cukup diketahui oleh masing-masing individu. Akan tetapi bagi Hasyim Asy’ari memandang bahwa etika tersebut penting dan perlu diperhatikan.


Di antara etika tersebut adalah:


– Menganjurkan untuk mengusahakan agar memiliki buku


– Merelakan dan mengijinkan bila ada kawan meminjam buku pelajaran, sebaliknya bagi peminjam menjaga barang pinjamannya


– Memeriksa dahulu bila membeli dan meminjamnya


– Bila menyalin buku syari’ah hendaknya bersuci dan mengawalnya dengan basmalah,

Sedangkan bila ilmu retorika atau semacamnya, maka mulailah dengan hamdalah dan shalawat Nabi. Kembali tampak kejelian dan ketelitian beliau dalam melihat permasalahan dan seluk beluk proses belajar mengajar. Etika khusus yang diterapkan untuk mengawali suatu proses belajar adalah etika terhadap buku yang dijadikan sumber rujukan, apalagi kitab-kitab yang digunakan adalah kitab “kuning” yang mempunyai keistimewaan atau kelebihan tersendiri. Agaknya beliau memakai dasar epistemologis, ilmu adalah Nur Allah, maka bila hendak mempelajarinya orang harus beretika, bersih dan sucikan jiwa. Dengan demikian ilmu yang dipelajari diharapkan bermanfaat dan membawa berkah.

Pemikiran seperti yang dituangkan oleh Hasyim Asy’ari itu patut untuk menjadi perhatian pada masa sekarang ini, apakah itu kitab “kuning” atau tidak, misalnya kitab “kuning” yang sudah diterjemahkan, atau buku-buku sekarang yang dianggap sebagai barang biasa, kaprah dan ada di mana-mana. Namun untuk mendapatkan hasil yang bermanfaat dalam belajar etika semacam di atas perlu diterapkan dan mendapat perhatian.

Demikian sebagian dari pemikiran mengenai pendidikan yang dikemukan oleh Hasyim Asy’ari. Kelihatannya pemikiran tentang pendidikan ini sejalan dengan apa yang sebelumnya telah dikemukakan oleh Imam Ghazali, misalnya saja, Hasyim Asy’ari mengemukakan bahwa tujuan utama pendidikan itu adalah mengamalkannya, dengan maksud agar ilmu yang dimiliki menghasilkan manfaat sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat kelak. Imam Ghazali juga mengemukakan bahwa pendidikan pada prosesnya haruslah mengacu kepada pendekatan diri kepada Allah dan kesempurnaan insani. Oleh karena itu tujuan pendidikan menurut al-Ghazali adalah “tercapainya kemampuan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah, dan kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat“. Dan senada pula dengan pendapat Ahmad D.Marimba bahwa, “pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama”.

Begitu juga pemikiran Hasyim Asy’ari mengenai niat orang orang yang menuntut ilmu dan yang mengajarkan ilmu, yaitu hendaknya meluruskan niatnya lebih dahulu, tidak meng-harapkan hal-hal duniawi semata, tapi harus niat ibadah untuk mencari ridha Allah. Demikian juga dengan al Ghazali yang berpendapat bahwa tujuan murid menuntut ilmu adalah mendekatkan diri kepada Allah dan mensucikan batinnya serta memperindah dengan sifat-sifat yang utama. Dan janganlah menjadikan ilmu sebagai alat untuk mengumpulkan harta kekayaan, atau untuk mendapatkan kelezatan hidup dan lain sebagainya. Akan tetapi tujuan utama adalah untuk kebahagiaan akhirat. Dan mengenai guru al-Ghazali lebih keras, bahwa guru mengajar tidak boleh digaji.

Mengenai etika seorang murid yang dikemukakan Hasyim Asy’ari sejalan dengan pendapat al-Ghazali yang mengatakan “hendaknya murid mendahulukan kesucian batin dan kerendahan budi dari sifat-sifat tercela… seperti marah, hawa nafsu, dengki, busuk hati, takabur, ujub dan sebagainya”.

 

D.     Kesan Dan Komentar Tentang KH. Hasyim Asy’ari

 

K.H.Muhammad Hasyim Asy’ari dilahirkan dari keturunan eliet kiai (pesantren) pada tanggal 24 Zulhijjah 1287H bertepatan 14 Pebruari 1871M, tepatnya sebelah Timur Jombang Jawa Timur. Suasana kehidupan pesantren sangat mem-pengaruhi pembentukan karakter Hasyim Asy’ari yang sederhana dan rajin belajar, belajar dari pesantren ke pesantren di Jawa sampai ke Tanah Hijaz.

Sebagai pendidik merupakan bagian yang yang terpisahkan dari perjalanan hidupnya sejak usia muda. Setelah mengajar keliling dari pesantren orangtua hingga mertua, pada tahun 1899 Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren sendiri, mewujudkan cita-citanya di daerah Tebuireng Jombang, Jawa Timur.

Pemikiran Hasyim Asy’ari dalam bidang pendidikan lebih menekankan pada masalah etika dalam pendidikan , meski tidak menafikan beberapa aspek pendidikan lainnya. Dan dalam hal ini banyak dipengaruh dengan keahliannya pada bidang Hadits, dan pemikirannya dalam bidang tasawuf dan fiqih yang sejalan dengan teologi al Asy’ari dan al Maturidi. Juga searah dengan pemikiran al-Ghazali, yang lebih menekankan pada pendidikan rohani. Misalnya belajar dan mengajar harus dengan ikhlas, semata-mata karena Allah, bukan hanya untuk kepentingan dunia tetapi juga untuk kebahagian di akhirat. Dan untuk mencapainya seseorang yang belajar atau mengajar harus punya etika, punya adab dan moral, baik si murid ataupun si guru sendiri.

Ketika penulis mempunyai tekad untuk meneruskan perjuangan pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari di benak penulis muncul ide untuk menuliskan riwayat hidup beliau. Gagasan ini dilandasi kenyataan kurangnya publikasi mengenai hal tersebut, apalagi yang menyangkut perjuangan beliau. Padahal, perjuangan KH. Hasyim Asy’ari telah terbukti menjadi titik tolak kebangkitan umat Islam Indonesia.

Kata-kata itulah yang ditulis oleh M. Ishoma Hadzik dalam pengantarnya pada karyanya ini. Sebagai cucu dari KH. Hasyim Asy’ari, Gus Ishom merasa terpanggil untuk menuliskan riwayat hidup Hasyim Asy’ari yang nantinya dapat menjadi penyambung mata rantai perjuangan KH. Hasyim Asy’ari. Memang benar apa yang ditulis oleh Gus Ishom pada pengantarnya, bahwa saat ini minim penulis yang menuliskan biografi atau riwayat hidup mengenai tokoh-tokoh muslim Indonesia. Padahal, begitu banyak tokoh yang pemikirannya tidak kalah brilian dibandingkan dengan pemikir-pemikir Barat yang begitu dibangga-banggakan oleh para penulis Indonesia.

Dan yang perlu menjadi catatan lagi bahwa tokoh-tokoh muslim Indonesia tersebut juga ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Selayaknyalah kiranya para penulis-penulis Indonesia sebagai rasa penghormatan kepada para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut untuk kembali menuliskan pemikiran-pemikiran mereka atau hanya sekedar menuliskan kisah kecil mengenai perjalanan hidup mereka. Boleh jadi, dengan itu akan menjadi spirit baru bagi Indonesia untuk melahirkan tokoh-tokoh sekaliber KH. M. Hasyim Asy’ari.

Kehidupan Kiai Hasyim tidaklah seperti yang kita bayangkan, kesederhanaan menjadi pegangan utama bagi Kiai Hasyim. Sejak masih remaja, Kiai Hasyim dikenal sebagai anak muda yang berpandangan relegius dan berorientasi ukhrawi. Beliau terbiasa melakukan olah batin dengan berpuasa guna mencegah hawa nafsu. Kebiasaan ini beliau warisi dari sang Ibu, Nyai Halimah. Sekalipun tak puasa, beliau jarang makan. Paling banyak, beliau makan sehari dua kali, yaitu sarapan pagi dengan secangkir kopi susu serta makan malam usai mengajar. Beliau jarang makan siang, kecuali jika kebetulan ada tamu dan beliau bermaksud menghormatinya dengan menemani makan siang.

Konon, ketika istri beliau yang ketujuh masih hidup, setiap hari sang nyai menyediakan nasi dan lauk-pauk yang cukup untuk menghormati sekurang-kurangnya 50 orang tamu. (hal. 31) Dari segi pemikiran, Kiai Hasyim berbeda pandangan dengan sebagian ulama semasanya yang terkadang bercorak sinkretik, karena Kiai Hasyim dalam soal agama lebih berpikir puritan. (hal. 33) Sebagai pendiri Nahdlatul Ulama, beliau sangat mengedepankan Al-Qur’an dan Al-Hadits dalam mengungkapkan pemikirannya. Menurut beliau puncak keberagamaan dan jenjang kerohanian tertinggi hanya dapat dicapai melalui proses pentahapan yang urut, dan syanat, tarekat hingga hakikat. Karena ketiganya saling berkait, maka ketika seseorang mencapai hakikat bukan berarti syariatnya gugur. Itu sebabnya beliau mengecam anggapan sebagian orang yang menyatakan, bila telah menjadi wali, mereka tidak perlu menjalankan syariat. (hal. 33-34). Pemikiran Kiai Hasyim akan tata cara pengamalan agama yang benar dapat dibaca pada karyanya Tamyiz al Haqq ’an Al Bathil dan Ad Duror Al Muntatsiroh.

Di samping itu, dalam hal pendidikan beliau menyumbangkan pemikirannya yang tertuang dalam kitab adab Al Aim wa Al Muta’allim, kitab ini adalah adaptasi dari karya Ibnu Jamaah al-Kinani yang bertajuk Tadzkirot As Sami’ wa Al Mutakallim. Di zaman yang sangat patriarkhi, Kiai Hasyim begitu menghargai perempuan. Beliau tidak sepakat dengan opini masyarakat awam Jawa yang menyatakan bahwa wanita sekedar konco wingking dan tidak memerlukan pendidikan. Bagi Kiai Hasyim, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa pendidikan itu wajib hukumnya bagi laki-laki dan perempuan muslim. Hal ini dinyatakannya dalam forum pada muktamar NU dan menjadi landasan berdirinya pondok pesantren yang khusus didirikan untuk anak remaja putri. Mengenai alasan beliau membela kaum perempuan dapat dibaca dalam karyanya Ziyadah Ta’liqat.

Pada arena politik, beliau berjuang menggugah masyarakat supaya menyadari hak-hak politik mereka untuk hidup merdeka dan bebas dari penjajahan. Menurut beliau, kolonialisme asing hanya bisa dilawan dengan gerakan kebangkitan nasional. Ini pulalah yang kemudian melandasi beliau dan sejumlah kiai untuk mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) yang berdiri pada tanggal 31 Januari 1926. Namun, hal yang tak kalah pentingnya untuk dikaji adalah peran Kiai Hasyim dalam merebut kemerdekaan. Hal inilah yang kiranya mulai terlupakan, atau sengaja dilupakan oleh para ahli sejarah Indonesia. Padahal, perjuangan Kiai Hasyim telah dimulainya semenjak ia masih berada di Mekkah untuk menuntut ilmu, dan terus berlanjut hingga ia mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng.

Pada buku ini, Gus Ishom menguraikan beberapa peran penting Kiai Hasyim pada saat Indonesia masih dalam penjajahan Belanda dan Jepang. Saat Belanda menyatakan wilayah Indonesia dalam darurat perang dan merencanakan Ordonansi Milisi Bumiputera pada tahun 1940, Kiai Hasyim memanggil beberapa kiai ke Tebuireng. Melalui musyawarah, akhirnya menghasilkan keputusan menolak rencana tersebut. Bahkan mengharamkan dukungan terhadap Belanda dalam bentuk apapun, termasuk menyumbangkan darah untuk mereka. Dan musyawarah ini menyepakati tuntutan Indonesia Berparlemen yang disuarakan mellaui MIAI dan GAPI (Gerakan Politik Indonesia).

Pun begitu pula pada saat penjajahan Jepang, Kiai Hasyim menolak segala bentuk Niponnisasi, seperti menyanyikan lagu Kimigayo dan mengibarkan bendera Hinomaru. (Hal. 40) Kiai Hasyim juga menyiapkan kader-kader Islam yang militan dengan cara menganjurkan para santri untuk masuk tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang dibentuk pada tanggal 3 Oktober 1913 yang dipelopori oleh putranya, Abdul Kholiq. Pembentukan PETA kemudian diikuti oleh terbentuknya Hizbullah pada akhir tahun 1944 dan Barisan Sabilillah.

Namun, hal yang terpenting dalam perjuangan Kiai Hasyim adalah perannya dalam hal ”Resolusi Jihad”. Resolusi Jihad terjadi setelah Proklamasi kemerdekaan dikumnadangkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Kala itu, NICA mendompleng pasukan sekutu untuk memaksakan kembalinya kekuasaan Belanda dengan dalih melucuti tawanan perang Jepang. Menyikapi hal ini, Kiai Hasyim kemudian mengundang seluruh konsul se Jawa dan Madura untuk bermusyawarah, dan menghasilkan keputusan bahwa kemerdekaan yang sudah diproklamasikan dan Pemerintahan Republik Indonesia yang sah, hukumnya wajib dibela dan dipertahankan…. (hal. 41)

Menurut Gus Ishom, dengan lahirnya Resolusi Jihad semangat umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan semakin terbakar. Peristiwa heroik 10 November 1945 yang diperingati sebagai Hari Pahlawan menurut Gus Ishom tidak terlepas dari semangat Resolusi Jihad yang dicetuskan di markas NU, Bubutan Surabaya. Kiranya kegigihan perjuangan Kiai Hasyim tersebut cukup menjadi alasan utnutk memberi penghargaan kepada Kiai Hasyim sebagai ”Pahlawan Nasional” yang ditetapkan oleh Presiden Soekarno dalam Keppres nomor 249 tahun 1964.

Sebagaimana sambutan Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah, Kiai Hasyim meninggal pada masa yang sungguh kita masih sangat menghajatkan Pimpinan komandonya. Namun semangat beliau untuk selalu mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih, tetap menyala dan takkan hilang begitu saja. Kemunculan buku kecil yang disajikan dengan kupasan yang mendalam ini kiranya dapat menjadi semangat baru untuk kemudian menuliskan biografi dan riwayat hidup para tokoh-tokoh Islam lainnya.

 

-oOo-

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.