Arsip

Posts Tagged ‘Psikologi’

Pembelajaran Menurut Psikologi Pendidikan

Desember 27, 2008 Tinggalkan Komentar

A. PENDAHULUAN

Tidak dapat dipungkiri bahwa sejak anak lahir ke dunia ini telah ada dilakukan usaha pendidikan. Manusia telah berusaha mendidik anak-anaknya kendatipun dengan cara yang sangat sederhana. Demikia juga ketika kita bergaul dengan orang lain, kegiatan tersebut juga dinamakan pendidikan.

Adalah suatu keharusan bagi setiap pendidik yang bertanggung jawab, bahwa dia dalam melaksanakan tugasnya harus berbuat dalam cara yang sesuai dengan “keadaan” si anak didik. Psikologi yang kita bahas sekarang ini adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami sesama manusia dengan tujuan agar seseorang dapat memperlakukan orang lain dengan tepat. Oleh karena itu pengetahuan mengenai anak didik sangat penting bagi setiap pendidik. Sehingga seharusnya adalah kebutuhan setiap pendidik untuk memiliki pengetahuan tentang psikologi pendidikan. Dan kalau diingat bahwa setiap orang pada suatu saat tentu melakukan perbuatan mendidik, maka pada hakikatnya psikologi pendidikan itu dibutuhkan oleh setiap orang.

B. PEMBAHASAN

1. Pengertian Pembelajaran Dalam Pendidikan

Sebagai landasan penguraian mengenai apa yang dimaksud dengan belajar atau pembelajaran, maka terlebih dahulu akan dikemukakan beberapa definisi belajar.

a) Hilgar dan Bower, dalam buku Theories of Learning (1975) mengemukakan bahwa, “balajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungannya respon pembawaan, kematangan atau keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengeruh obat dan lain sebagainya).”

b) Gagne dalam bukunya The Condition of Learning (1977) mengatakan bahwa, “ Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”.

c) Cronbach mengatakan bahwa, learning is shown by change in behavior as a result of experience yang artinya ”pendidikan adalah mengalami, dan dalam hal ini si pelajar mempergunakan pancainderanya”.

Dari definisi-definisi yang dikemukakan diatas, dapatlah diambil kesimpulan bahwa elemen penting yang mencirikan pengertian tentang belajar adalah;

a) Bahwa belajar itu membawa perubahan (dalam arti behavior changes, aktual maupun potensial).

b) Bahwa perubahan itu pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru (dalam arti Kenntnis dan Fertingkeit).

c) Bahwa perubahan itu terjadi karena usaha (dengan sengaja)

2. Unsur Pendukung Aktifitas Pembelajaran

Sebagaimana telah dikemukakan diatas bahwa belajar adalah suatu proses yang menimbulkan terjadinya suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku atau kecakapan. Dan perubahan tersebut didukung adanya unsur-unsur penunjang. Unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut;

a. Unsur atau faktor yang berasal dari luar diri pelajar, dan ini masih dapat digolongkan menjadi dua golongan

1) Faktor-faktor non-sosial, seperti keadaan udara, suhu udara, waktu, alat-alat yang dipakai untuk belajar dan lain sebagainya.

2) Faktor-faktor sosial, seperti kehadiran seseorang pada waktu dia sedang belajar, kemudian apakah ia mengganggu atau mendukung dia belajar.

b. Unsur atau faktor yang berasal dari dalam diri pelajar, dan ini juga masih dapat digolongkan menjadi dua golongan

1) Faktor-faktor fisiologis. Faktor ini dibagi menjadi beberapa kategori yaitu,

· Keadaan jasmani seseorang, apakah nutrisi yang diberikan cukup atau tidak. Selain itu ada atau tidaknya penyakit kronis yang dideritanya.

· Keadaan fungsi fisiologi seseorang

2) Faktor-faktor psikologis. Arden N. Frandsen mengatakan bahwa hal yang mendorong seseorang belajar adalah;

· Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas

· Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk selalu maju

· Keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang lain seperti, guru, saudara, pacar dll.

· Keinginan untuk memperbaiki kegagalan

· Keinginan mendapatkan rasa aman ketika menghadapi ujian

· Adanya hukuman sebagai akhir dari belajar.

3. Berbagai Teori Psikologi Pendidikan Dalam Aktifitas Pembelajaran

Ada bermacam-macam konsepsi atau teori psikologi belajar dalam aktifitas pendidikan. Seperti Konsepsi yang disusun atas dasar pemikiran spekulatif,  Hermann Ebbinghaus, Teori Thorndike atau Bond-Psycology, Pavlovionisme, Classical Conditioning, Behaviorisme, Teori Skinner; Operant Conditioning, Teori Gestalt, Belajar menurut Teori Medan, Pendirian Eklektik. Tetapi hanya lima yang akan kita bahas pada makalah ini. Konsepsi tersebut yaitu,

a. Konsepsi yang disusun atas dasar pemikiran spekulatif

Ada beberapa golongan yang mendukung konsepsi ini seperti, golongan Skolastik, golongan Kontra Reformasi, golongan ahli psikologi daya dan Herbart.. Dengan beralasan konsepsi ini maka pendidik adalah masalah bagaimana untuk memberikan tanggapan yang dipandang baik yang cukup kuat, sehingga menentukan langkah seseorang. Ada dua hal yang harus ditempuh yaitu;

1. memberikan tanggapan sejelas-jelasnya

2. memasukkan tanggapan tersebut sesering mungkin kedalam kesadaran.

b. Hermann Ebbinghaus merintis cara-cara pendekatan ekperimental

Hermann Ebbinghaus berusaha menghafal sejumlah besar kombinasi-kombinasi huruf tanpa arti secara berulang-ulang. Dari eksperimen tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam konsepsi Hermann Ebbinghaus inti belajar itu tidak lain adalah ulangan.

c. Teori Thorndike atau Bond-Psycology

Thorndike berpendapat bahwa yang menjadi dasar belajar adalah asosiasi antara kesan pancaindera (sense impresion) dengan impuls untuk bertindak (impuls to action). Asosiasi tersebut dinamakan Bond atau Connection. Asosiasi ini menjadi lebih kuat atau lebih lemah dalam terbentuknya atau hilangnya kebiasaan. Thorndike berpendapat bahwa belajar itu berlangsung menurut tiga macam hukum belajar pokok yaitu,

1. law of readines (mendapatkan kepuasan atau tidak)

2. law of exercise (koneksi akan bertambah kuat karena adanya latihan)

3. law of effect (makin kuat atau lemah hubungan sebagai akibat daripada hasil respon yang dilakukan).

d. Pavlovionisme, Classical Conditioning

Lebih cenderung menjelaskan tingkah laku manuasia.

e. Behaviorisme

Bagian-bagian teori JB. Watson yang terpenting adalah,

1. teori sarbon (stimulus and response bond theory)

2. pengamatan dan kesan

3. perasaan, tingkah laku afektif

4. teori tentang berfikir

5. pengaruh lingkungan.

4. Peranan Psikologi Pendidikan Dalam Mendukung Keberhasilan Aktifitas Pembelajaran

Ada beberapa peranan psikologi pendidikan dalam mendukung keberhasilan aktifitas pembelajaran. Diantaranya adalah,

a. memberikan penilaian tentang hasil pendidikan.

Maksud penilaian hasil-hasil pendidikan itu ialah untuk mengetahui (dengan alasan yang bermacam-macam) pada waktu dilakukan penilaian itu sudah sejauh manakah kemajuan anak didik.hasil daripada tindakan ini lalu dinyatakan dalam suatu pendapat yang perumusannya dengan menggunakan lambang, skala sampai 11 tingkat yaitu 0 – 10, dan ada yang memakai penilaian 0 -100.

b. Agar seorang pendidik mengetahui bagaimana karakter anak didiknya, sehingga mempermudah proses transfer ilmu pengetahuan dari seorang guru kepada muridnya.

C. PENUTUP

Ada beberapa kesimpulan yang dapat kita angkat dalam bab ini, yaitu;

1. Proses belajar dipengaruhi oleh banyak faktor. Seorang pendidik harus mengatur faktor tersebut supaya berpengaruh menguntungkan bagi belajar anak didik.

2. motif boleh dikata merupakan faktor yang menentukan dalam belajar, menentukan berhasil atau tidaknya usaha belajar. Karena itu pendidik harus berusaha mempergunakan faktor ini sebaik-baiknya.

3. berdasarkan atas penndirian elektrik hendaklah digunakan hukum-hukum belajar yang setepat mungkin, supaya yang belajar lebih berhasil. Misalnya saja untuk belajar yang bersifat ketrampilan atau kecekatan (skill) lebih tepat didasarkan pada hukum-hukum moleculer, tetapi belajar yang bersifat konseptual lebih tepat kalau didasarkan pada hukum molar.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.