Arsip

Archive for Januari, 2009

Bahasa Arab di Tengah Globalisasi

Januari 7, 2009 1 komentar

Tak diragukan lagi pentingnya bahasa Arab bagi umat Islam, terutama. Ia bahasa al-Qur’an dan Hadis, dua pilar pokok dalam Islam. Hal yang wajar dan tak bisa disederhanakan, apalagi dituduh arabisme ketika Imam Syafi’i dalam ar-Risalahnya, disusul kemudian pengarang kitab yang lagi digandungi sarjana Islam – Imam Syathibi dalam Muwafaktnya – mensyaratkan bagi siapa-siapa yang mau berijtihad untuk terlebih dahulu menguasai ilmu bahasa Arab. Bahasa Arab juga adalah bahasa Ilmu, terutama keilmuan Islam klasik. Beratus-ratu ribu buku dari berbagai disiplin ilmu warisan nenek moyang kita memakai bahas Arab. Keistimewaan lain bahasa Arab, dibanding bahasa-bahasa dunia lainnya, adanya ikatan kuat dengan agama. Karena kitab suci agama Islam diturunkan dengan bahasa Arab. Sementara bahasa asli Taurat dan Injil kini sudah punah. Pada masanya dulu, tepatnya sebelum Barat memasuki masa renaissance, berabad-abad lamanya bahasa Arab jadi bahasa dunia. Ia merupakan bahasa politik, ekonomi, bahkan dunia keilmuan. Ada beberapa sebab yang membuatnya jadi bahasa peradaban dunia, dimana setiap orang yang berkeinginan maju, merasa berkewajiban menguasainya. Diantaranya yang paling penting adalah:

Adanya proyek Arabisasi buku-buku administrasi pemerintahan pada masa dinasti Mu’awiyah (Khalifah Abd. Malik 685-705 M dan anaknya al-Walid *705-710 M) yang mau tidak mau memaksa para pegawai pemerintahan yang tak bisa berbahasa Arab untuk belajar bahasa Arab.

Proyek terjemahan, terutama buku-buku keilmuan, secara besar-besaran pada masa dinasti Abasiah (200 H/ 900 M), dari bahasa Yunani, India, Suryani ke dalam bahasa Arab, yang mengakibatkan orang Islam menjadi bangsa yang luar biasa kreatif dan kemudian menjadikan Islam sebagai kiblat keilmuan dan peradaban dunia

 

Kondisi Bahasa Arab Sekarang

Keadaan diatas itu terjadi dulu. Kalau kita amati sekarang, kondisinya akan tampak berbalik. Apalagi sejak memasuki era globalisasi, keadaannya makin mengkhawatirkan. Bahasa Arab perlahan tapi pasti posisinya mulai tergusur, dan bahasa Inggris menahbiskan diri sebagai bahasa nomor satu dunia. Pemasalahannya tidak berhenti sampai di situ. Akibat globalisasi zaman, dan budaya konsumtif yang tinggi dikalangan negara Arab, ditambah ledakan informasi, secara sadar atau tidak sadar, mau atau tak mau, bahasa Inggris meringsek masuk ke dalam sistem-sistem sosial di kalangan Arab sendiri. Misalnya, dalam bidang pendidikan, banyak sekolah-sekolah di sana, terutama dalam mata pelajaran eksakta: Kimia, Fisika, Matematika dan biologi, bukunya menggunakan bahasa Inggris.

Begitu juga dalam dunia teknologi, kosa kata asing tak kuasa untuk dibendung. Celakanya kemudian bahasa itu diterima apa adanya, karena secara level sosial akan dinggap sebagai orang modern. Perubahan kalimat asing hanya dari sisi tulisan –dari latin ke arab-, bunyi tetap sama: laptop, mouse, keybord, mobile, oke, dll. Kondisinya tidak seperti abad dua Hijriah dulu. Walaupun kosa-kata asing banyak bermunculan, tapi tidak langsung dimakan mentah-mentah. Ada proses yang sangat ketat, dimana kosa kata asing sedapat mungkin dicarikan kosa kata yang semakna, kalau tidak ada dilakukan penerjemahan, kemudian kalau masih tak bisa baru diterima apa adanya.

Dalam kehidupan sosial juga penggunaan bahasa yang keinggris-inggrisan sedang digandrungi masyarakat Arab. Kondisi yang sungguh memprihatinkan. Kita selalu berharap pada lembaga-lembaga kajian bahasa Arab untuk segera melakukan tindakan-tindakan preventif, misalnya melakukan penerjemahan kata-kata asing dan melakukan gerakan cinta bahasa Arab, dst.

Kita tak memungkiri apalagi anti bahasa Inggris, atau bahasa asing lainnya. Semuanya penting untuk kita pelajari dan kita kuasai! Tapi sikap toleran itu tidak kemudian menggerus dan meninggalkan bahasa Ibu, sebagai identitas bangsa yang punya harga diri. Karena fenomena yang terjadi, penggunaan bahasa asing itu, ada indikasi, lebih sebagai sebentuk keminderan atas bahasa sendiri. Mereka merasa sebagai orang ‘maju’ ketika menggunakan bahasa asing.

Himbauan kepada lembaga-lembaga kajian bahasa Arab saja tidak cukup tentunya. ‘Serangan’ itu akan terus bertubi-tubi, bahkan makin dahsyat selama mereka tak mau mencontoh nenek moyangnya dulu, yaitu menjadi bangsa yang sangat kreatif. Menjadi produsen, bukan konsumtif dan pemalas seperti sekarang ini. Walllahu ‘alam

Ajaran Bahasa Arab di semua sekolah kebangsaan di seluruh negara. Malah Timbalan Perdana Menteri pernah menyuarakan, sukatan bahasa Arab perlu diperkenalkan secara khusus kepada semua pelajar yang mengambil Pendidikan Islam kerana ia mampu membentuk perkembangan pelajar-pelajar Islam sejajar dengan kehendak semasa yang mahukan pelajar menguasai lebih daripada satu bahasa.

Al-Quran secara jelas meletakkan keutamaan terhadap bahasa Arab melalui firman Allah, Sesungguhnya Kami menurunkan kitab itu sebagai al-Quran yang dibaca dengan bahasa Arab, supaya kamu (menggunakan akal untuk) memahaminya. (Yusuf:2).

Bahasa Arab adalah bahasa pilihan Allah dalam menyampaikan mesej kehidupan di dunia dan akhirat kepada manusia. Ini digambarkan di dalam surah Yusuf ayat 28: Iaitu al-Quran yang berbahasa Arab, yang tidak mengandungi sebarang keterangan yang terpesong; supaya mereka bertakwa.

Apakah sebenarnya keistimewaan bahasa Arab? Keistimewaan bahasa Arab lama diperakui dan di dibuktikan oleh pakar-pakar ilmu bahasa (linguisticans), pengkaji bahasa (philogist) dan perkamusan (lexicographers). Bahasa Arab mempunyai kecantikan yang tersendiri dengan susunan irama, urutan kata dan irama kata yang cukup menyentuh jiwa para pendengarnya.

Gabungan ketiga-tiga unsur ini, maka lahirlah rentak dan rima vokal dan konsonan muzik sealunan meliputi penggunaan bibir (labial), gigi (dental), lidah, (lingual), lelangit (palatal) dan kerongkong (guttural).

Ini dapat dibuktikan melalui penggunaan ilmu tajwid seperti yang dipraktiKkan dalam membaca al-Quran. (Islam dan al Hadith: Abdul Halim el Muhammady). Pencinta bahasa Arab akan mendapati bahasa ini turut kaya dengan makna dalam setiap kalimah dan keutuhannya tetap jelas sehingga ke hari ini, meskipun kemunculan slanga, bahasa pasar dan dialek-dialek daerah atau loghat-loghat tertentu yang begitu luas diguna pakai oleh generasi hari ini.

Para ulama bersepakat meletakkan pengetahuan bahasa Arab penting untuk mempelajari, memberi fatwa dan mengajar pengajian Islam. Bahasa Arab turut digelar sebagai lisan al Malaikah (bahasa para malaikat) atau kalam al Jannah (Bahasa ahli syurga).

Rasa cemburu orientalis terhadap bahasa Arab telah membawa kepada usaha-usaha untuk memperkembangkan dialek-dialek daerah bagi menggantikan bahasa Arab klasik, namun hanya menemui kegagalan.

Ini dapat dilihat melalui peristiwa yang berlaku pada tahun 1912 ketika Kongress Orientalis Antarabangsa berlangsung di Athens. Seorang sarjana Mesir yang menghadiri kongres tersebut menolak teori bantuan daripada bahasa tambahan ke dalam bahasa-bahasa lain seperti berlakunya penerimaan dialek Volapuk, Esperant dan Ido ke dalam bahasa Eropah. (Sh Inayatullah, K. Hitti: America and Arab Heritage 1946)

Bahasa Arab memberi satu corak pengaruh cukup besar terhadap perkembangan tamadun manusia sehingga ke hari ini. Sebagaimana diutarakan oleh Prof. Dr. Ayatrohaedi dari Jabatan Arkeologi, Fakulti Ilmu Pengetahuan Budaya, Universiti Indonesia bahawa bahasa Arab telah dijadikan salah satu sumber istilah baru. (Harian Pikiran Rakyat : 30 September 2002)

Kesan pembudayaan Islam di antaranya melalui bahasa Arab meliputi hampir keseluruhan nusantara, salah satunya di semenanjung Tanah Melayu sendiri ketika di bawah pengaruh dan kekuasaan sultan-sultan. Bahasa Melayu telah mengalami perubahan yang besar. Selain diperkaya dengan istilah dan perkataan Arab dan Parsi, bahasa Melayu turut dijadikan bahasa penghantar utama Islam di seluruh Kepulauan Melayu-Indonesia.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.